Selasa, 18 Oktober 2011

Hari Cenat Cenut

Hari ini, setelah aku menghadiri acara technical meeting di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, aku segera membeli barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan OSPEK kampus. Hingga sore, aku belum selesai membeli barang-barang yang aku butuhkan besok pagi. Hhuuft…capek banget. Apalagi belinya sendiri. Fiuh!
Tak lama ketika aku mendapatkan tempat untuk beristirahat, mama meneleponku,
“Ya, Ma?” tanyaku saat Mama memanggil namaku.
“Beli barang-barang untuk OSPEK kok lama?” Tanya Mama.
“Iya nih, Ma, barang yang harus dibeli aneh-aneh tapi udah hampir selesai kok. Sekarang tinggal cari kaos kaki olahraga warna merah polos.” Jawabku sambil menyeruput minuman yang aku beli tadi.
“Emang kamu belinya dimana?”
“Ya ini lagi muter-muter di toko olahraga, tapi udah beberapa toko, aku belum dapet kaos kaki itu, Ma. Ugh…capek!” Keluhku.
“Ya udah, istirahat dulu bentar, setelah itu baru cari lagi.”
“Iya, Ma. Ini juga dari tadi memang lagi istirahat.”
Klik. Telepon di tutup. Kemudian aku kembali mencari kaos kaki yang aku beri nama, kaos kaki terkutuk! Hm…kalo gak karena OSPEK, mana mau aku beli kaos kaki bola selutut? Gila! Nggak banget. Aneh deh panitia, dapet ilham pake kostum ajaib dari mana sih?
Tapi ahirnya setelah berkeliling sambil lirik sana-sini dan masuk dari toko sport satu ke toko sport yang lain, aku dapatkan kaos kaki terkutuk itu. Hhh…syukurlah. Dengan gerak cepat, aku segera pulang untuk segera menyiapkan barang-barang yang lain.

15 menit kemudian aku sampai di rumah dengan wajah pucat karena kelelahan. Di halaman rumah sore itu, orang pertama yang aku temui adalah Rani, adikku.
“Kak Riena kenapa tuh? Kusut banget wajahnya?” Sapanya sambil memperhatikanku yang sempoyongan dengan membawa beberapa plastik belanjaan.
“Jangan banyak tanya, kakak mau mandi terus makan. Setelah itu kamu WAJIB bantu kakak nyiapin perlengkapan OSPEK besok!” ujarku dengan menekankan kata wajib dan memasang tampang seserius dan sejutek mungkin, berharap agar adik semata wayangku ini membantu.
“Kalo minta tolong itu yang baik dan pake tampang manis, bukan malah sok galak gitu. Siapa yang mau nolongin?” katanya santai sambil tetap menyirap bunga yang ada di halaman rumah. Kalo gini jadinya, terpaksa dengan menggunakan bahasa yang dihalus-halusin aku memintanya untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya nanti malam. Ahirnya dia mau, tapi nggak lupa dengan traktiran eskrim favoritnya. Ugh! Gerutuku dalam hati.

Pukul 22.00 WIB.
Kantukku udah nggak bisa ditahan lagi. Untung saja semua keperluan OSPEK sudah aku siapkan, dan tentu saja dengan bantuan Rani serta Mama. Tak lama setelah berterimakasih kepada mereka berdua aku merebahkan tubuhku di dalam kamar. Hari ini lelah, tapi pasti nggak akan sebanding sama kelelahan yang akan ku alami besok dan selanjutnya, di hari-hari OSPEK. Membayangkan pakaianku yang aneh, dengan sepatu bola merah selutut dan kacamata hitam membuatku ngeri setengah mati. Belum lagi bentakan-bentakan yang akan aku dapatkan dari senior. Haduh…ampun deh!
Akan tetapi dengansegala harap dan kuasa Tuhan, aku berharap nggak melanggar sedikitpun peraturan yang telah dibuat oleh panitia. Perlahan sambil lalu membayangkan lagi wajah-wajah senior dengan tampang galak, atau mungkin lebih tepatnya sok galak, aku mulai terlelap kemudian pergi bersama mimpiku malam itu.

¥

Setibanya aku di kampus baru pagi harinya.

Dengan pakaian yang serba aneh dan ajaib, aku memasuki kampus baruku, dan aku baru sadar kalau banyak teman-teman yang sudah berkumpul dan membentuk barisan sesuai kelompok masing-masing sesuai dengan ketentuan panitia.
Awalnya aku berjalan santai ke arah barisan tersebut, namun seorang panitia dengan wajah seram-mungkin ini panitia bagian keamanan-memanggilku.
“Heh kamu! Lari menuju barisan! Jangan leyeh-leyeh gitu jalannya!!!” bentaknya. Dan seketika aku berlari, namun sialnya, aku nggak nyadar ada sebuah batu besar yang saat itu ada di depanku. Lalu dengan gerakan yang tak terduga dan tidak dapat di elak lagi, aku jatuh!
“HAHAHAHA!!!” otomatis gelak tawa membahana di tempat itu. Sumpah! Aku malu banget! Karena terburu-buru aku nggak nyadar ada batu sebesar sepatu kets yang nangkring di depanku tepat waktu aku mau lari tadi.
“Makanya, kalau mau lari liat-liat dulu.” Ujar salah satu panitia yang tingginya bahkan tidak melebihiku.
‘Ugh…coba bukan panitia, tambah aku pites nih orang! Biar sekalian tambah kecil!!’ runtukku dalam hati sambil segera berdiri dan menghampiri kelompokku.

Setengah  hari berlalu, dan segala hal berjalan semestinya kecuali adegan memalukan tadi pagi di depan semua panitia dan peserta OSPEK. Setelah acara pengenalan kampus selesai, semua peserta OSPEK kembali berbaris di halaman. Panas-panas begini, tega banget yach. Mana laper, gerah, ugh…pengen banget nimpuk kepala senior yang terus aja berceloteh di depan itu tanpa memikirkan perut-perut peserta yang sudah berceloteh kelaparan!!
Dengan malas-malasan aku memainkan sebuah batu sebesar bola bekel dan melemparkannya tak sengaja ke sembarang arah. Lalu…
“Aaw! Siapa yang melempar batu ke arahku?” sadar karena itu pasti batu yang tadi aku lempar semabarangan, aku menunduk. Duh…parah!
“Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua tidak akan mendapatkan jatah makan siang dan harus lari keliling lapangan ini!” ujarnya lagi.
Oh my God! Apa gak gila tuch!? Panas terik begini disuruh lari keliling lapangan? Aku mulai mendongak, melihat kakak mana yang bicara, aku tau harus bertanggung jawab karena perbuatanku kalau gak mau semua teman-teman yang akan menjadi korbannya.
Tiba-tiba aku kembali kikuk setelah tau seperti kakak senior yang aku timpuk tadi. Duh…serem! Udah badan tinggi, gemuk, item pula! Mana berani aku ngaku? Hhm…kayaknya aku bisa aja ditelan idup-idup! Fiuh…kerikil kecil aja kok kak, gak usah jadiin masalah besar napa?
“Hei…kamu kan yang ngelempar tadi? Ngaku gih, masak tega semua temen kita kamu biarin lari keliling lapangan?” bisik teman di belakangku.
“Tapi aku kan gak sengaja, aku lagi kesel aja terus lempar sembarangan.” Belaku pada diri sendiri.
“Tapi tetep kamu yang salah kan? Sono gih…!”
“Nggak! Aku nggak sengaja!!” suaraku meninggi dan otomatis begitu terdengar ditengah peserta OSPEK yang mulai ketakutan melihat  tampang garang kakak item itu.
“Heh…kamu!” ujar kakak itu entah kepada siapa, namun aku gak berani melihat untuk tau dia tujukan kepada siapa kalimat itu. Tak lama kemudian ada yang menepuk bahuku.
“Udah gak dengerin sekarang malah ngegosip di sini! Maju!” Gdubrrak! Kakak menyeramkan itu menyuruhku ke depan, dan otomatis semua mata lelah tertuju kepadaku. Apes…apes…gerutuku.
“Ooh…kamu yang jatuh tadi pagi itu kan?” tanya kakak menyeramkan itu setalah aku berada di paling depan dan menghadap ke semua peserta OSPEK.
“Iya, kak.” Jawabku lirih.
“Kamu juga yang berbicara sendiri?” tanyanya lagi.
“Iya, kak.” Jawabku lebih lirih lagi. Takut.
“Jangan-jangan, kamu juga yang ngelempar batu ini?” tanyanya lebih garang dengan sorot mata penasaran dan masih dengan sikap sok cool.
Oh my God! Kalau aku bilang, bisa mati berdiri karena jantungan dia bentak-bentak ‘ntar. Glek.
“Diam berarti iya??? Ngaku aja, kalo perbuat harus berani bertanggung jawab apapun resikonya,” tanya panitia lain, yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Aku hanya mengangguk pasrah, apapun hukumannya akan aku terima saja. Fiuh..
“Bagus. Sekarang kamu jalan keliling lapangan ini sambil berkata, Aku minta Maaf Kak Tony yang ganteng, Aku salah. Cepet!!!”
Alhasil, dengan sisa tenaga diterik ini, aku melakukan semua yang dia mau. Teriak-teriak seperti orang gila, dengan mengatakan sesuatu yang aku sendiri eneg dengernya.

¥

Hari-hari OSPEK yang menyebalkan ahirnya berlalu, dan sekarang adalah malam inagurasi di mana semua peserta diberi kesempatan untuk menampilkan segala sesuatu yang mereka bisa dan yang pasti nggak malu-maluin.
Setelah teriak-teriak sambil mengelilingi lapangan, memperagakan cara berjalan model di depan peserta OSPEK, serta ngerayu kakak senior yang tampangnya nggak banget, ahirnya penderitaanku selesai. Lega…banget! Dengan bahagia ahirnya aku bisa teriak kegirangan karena moment paling menyebalkan yang pernah aku alami sudah berakhir.

Di malam inagurasi ini, aku sengaja untuk tidak menampilkan apapun. Aku lelah berurusan dengan yang namanya senior. Tapi seorang senior yang aku tahu namanya adalah Fajar, mengajakku menyanyi bersama di acara pembuka malam inagurasi ini. Satu-satunya senior yang aku suka, karena nggak pernah nyuruh yang aneh-aneh ke peserta OSPEK dan juga menjabat sebagai ketua panitia OSPEK tahun ini.
Hhm…aku sempat nggak percaya bahwa yang dia ajak adalah aku. OMG…!!! Teriakku dalam hati. Lalu tanpa lagi berpikir lama-lama, aku menaiki tangga panggung dengan grogi dan deg-degan. Nggak pernah kebayang sebelumnya bisa berdiri di samping ketua OSPEK yang cakep, baik hati dan tidak sombong ini. Yah…mungkin ini happy ending yang pantas aku terima setelah beberapa hari ini dikerjain habis-habisan oleh senior yang lain.
Akan tetapi, karena terlalu grogi dan keasyikan melamun, aku nggak terlalu memperhatikan tangga yang aku naiki dan…
Gdubrraakkk!!!
Aku jatuh di depan seluruh mahluk Tuhan! Kak Fajar yang awalnya memainkan gitarnya berhenti seketika dan memperhatikanku. Duh, malu-maluin banget sich! Runtukku terlebih pada diri sendiri.
“Kak Riena, ayo bangun…”
Di tengah peserta OSPEK yang tertawa membahana melihatku terjatuh kenapa aku bisa mendengar suara Rani, adikku? Kayaknya dia nggak bilang mau ikut deh!
“Kak Riena, ih…AYO BANGUN!!!”
Aku tersadar dan membuka mata, melihat sekeliling. Sepi.
“Kenapa aku di kamarku Ran?” tanyaku bego.
“Lho, seharusnya aku yang tanya, kenapa kak Riena bobok di bawah???”
“Ya ampun! Ternyata tadi aku bukan jatuh dari tangga ya?”
“Hah??? Mo jatuh dari tangga mana? La wong ini kamar!! Yang ada jatuh dari kasur, kak!” Kata Rani memperhatikanku dengan aneh. Aku paham dia nggak ngerti yang aku bicarain. Dan aku baru sadar, semua hanyalah MIMPI. Penderitaan OSPEK bukan berahir tapi baru akan dimulai hari ini!!!
Dengan gerak cepat, aku segera bangkit dan melirik jam pinguin yang terpajang manis di dinding kamarku. 05.45 WIB.
“RANI…!!! KENAPA NGGAK BANGUNIN DARI TADI??? KAKAK HARUS DI KAMPUS TEPAT JAM 6!!!” teriakku marah-marah sambil segera menuju kamar mandi. Sayup-sayup dari kamar mandi aku mendengar Rani menggerutu bahwa dia telah membangunkanku sejak shubuh. Tapi masa bodo ah, yang penting sekarang harus mandi dan siap-siap menghadapi OSPEK sekilat mungkin! Dan firasatku mengatakan, mimpi itu akan menjadi nyata! Aku akan segera mengahadapi hari-hari sialku!!!


Read More

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena