Kamis, 13 September 2012

Sahabat Pelangi

Mulai menulis, bercerita dan bercengkrama dengan kenangan-kenangan lalu setelah 2 tahun tak lagi bersama mereka. Dua tahun tak lagi berbaur bersama mereka. Hanya sesekali, hanya melalui dunia maya. Rindu ini tak lagi bisa dibahasakan.

Mereka menyebut dirinya pelangi dan aku juga termasuk salah satu diantaranya. Sahabat pelangi, yang mereka percayai, bahwa jika salah satu diantara kami pergi, maka persahabatan ini tak akan selayaknya sebuah persahabatan. Seperti halnya pelangi, jika hilang salah satu warnanya, maka ia tak akan indah lagi.

Dimulai dari Eliez, si merah pelangi. Seseorang yang ku kenal sejak dibangku menengah pertama tapi mulai dekat diorganisasi sekolah menengah atas, seseorang yang sedikit egois walau sebenarnya rapuh, tapi dengan merahnya ia terlihat kuat dan tegas. Sesekali menangis jika yang dia hadapi benar-benar membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Pemilik senyum manis ini mampu memberikan nasihat-nasihat positifnya dan bisa diajak bicara. Thankz Eliez pernah datang dalam hidupku.

Opiex, si jingga pelangi. Teman pertamaku di Annuqayah, aku memnaggilnya r0v dan dia memanngilku Nana, kami dekat sejak sekolah menengah pertama. Selalu terlihat ceria dan mampu mengobarkan semangat orang-orang sekitarnya. Tersenyum, belajar, berkerja, ia lakukan dengan ikhlas. Itu membuatku nyaman bersamanya. Bercerita banyak dan tertawa bersamanya menyenangkan. Selalu membuat suasana hangat ketika keberadaan pelangi mulai terasa dingin. Rov, I love you. Merindukan saat-saat berbagi cerita denganmu.

Mam Chan si kuning pelangi. Dekat dengannya sejak kelas ahir sekolah menengah atas, tapi cukup membuat kami begitu dekat seolah-olah sudah mengenal begitu lama. Cerita tentang sahabat kecil, tentang gerimis yang kemudian berubah menjadi hujan, tentang separuh bintang kami, dan banyak lagi hal lain. Segala hal yang kami rasa ketika kami mulai mengerti arti sebuah kehilangan seorang sahabat kecil. Cerita-cerita itu membuatku dan Chan mengenal begitu dekat, tertawa dan menangis bersama. Hhhhh, aku rindukan semua kenangan itu. Chan, baik-baik saja kah kau saat ini? Separuh bintangku sudah utuh, punyamu?

Shatitin, si hijau pelangi. Diam tapi bercerita. Menangis tapi tertawa. Terluka tapi tenang. Yang mampu memahami sahabat pelangi, yang tak bisa melihat orang terdekatnya terluka, yang mampu menyimpan rapat ‘rasa’nya. Pertama kali mengenalnya, ia datang dengan membawa cerita nyata yang kemudian ku tulis menjadi sebuah naskah dan ditampilkan dalam sebuah drama acara pentas seni di sekolah. Shatitin, semoga kau tak marah kisahmu aku jadikan sebuah tontonan nyata dalam bentuk drama. Tangis Dalam Diam Zara, tetap milikmu.

Yuda, si pink pelangi. Wajah ini yang pasti selalu ceria. Si kreatif yang bercita-cita mengubah dunia dan isinya menjadi warna pink. Selalu ramai, selalu punya cerita heboh dan selalu memberi pelukan untuk sahabat pelangi lainnya. Selalu tampil dengan warna pinknya. Yuda, aku rindu pelukanmu. Rindu tawamu. Rindu rancangan-rancangan kreatifmu. Kau masih tetap berkarya kan?

Eva, si ungu pelangi. Gadis bijaksana ini sangat lembut. Menyikapi semua hal dengan dewasa dan bisa menjadi teman berbagi yang baik. Usahanya yang keras mampu membuatnya terlihat berbeda dari sahabat pelangi yang lainnya. Cerdas, pintar dan sederhana. Dia lah panutan sahabat pelangi. Mencintai sepenuh hati sahabat pelanginya. Eva, sehat kan? Ingin sekali melihat siluetmu.

Ila, si putih pelangi. Baru dengar ada pelangi yang berwarna putih? Yah, Ila menganggap dirinya sebagai putih. Ia pernah mengatakan, putih adalah warna dasar dari segala warna. Tak akan ada merah tanpa putih, tak ada biru tanpa putih. Sahabat pelangiku yang satu ini selalu ingin tau kabar sahabat-sahabatnya dan menjaga sahabat pelanginya sekuat yang ia bisa serta selalu mencintai sahabat-sahabatnya. Terima kasih Ila, selalu menjaga erat hubungan pelangi, terima kasih atas sikap lembutmu. Terima kasih untuk semuanya.

Aku, Yenz, si biru pelangi. Entahlah mereka mengenalku seperti apa. Aku bahkan pernah ragu bahwa diriku adalah bagian dari warna-warna indah mereka. Mungkin aku yang paling berdosa karena pernah membabtis diri sebagai gerimis, bukan bagian dari pelangi tapi ia selalu berada di dekat pelangi. Aku tidak tahu pasti bagaimana penilaian mereka terhadapku. Yang aku tahu, aku rindu warna-warnaku. Mungkin saja mereka menganggapku orang yang tak tahu terima kasih, yang ‘membuang’ sahabat lama ketika mendapatkan sahabat baru di tempat yang lain. Tapi tahukah kalian, ketika mengingat kenangan bersama mereka, rindu ini tak lagi bisa ditahan, tapi aku pun tak bisa memeluk pelangiku. Bagaimanapun, apapun, kemanapun, aku sayang kalian pelangiku…

Delapan warna ini selalu tersimpan erat di hati, ku bungkus dengan kertas terindah yang aku punya dan ku sulam dengan doa-doa. Aku tak lagi bisa melihat mereka nyata dalam satu waktu sesuai keinginganku, tapi aku akan selalu memeluk mereka dengan doa. Berharap Tuhan mau menjaga mereka untukku. Mereka tak akan tergantikan, meski terkadang suka diam dan memendam keluh kesah di hati. Tapi merekalah sahabatku, yang membuatku belajar dan mengerti arti sebuah ketulusan, kesabaran, tangisan, kebahagiaan dan kerinduan.

Pelangi, si bias biru ini merindukan kalian. Baik-baiklah dimanapun kalian berada. Peluk cium dan doa-doa indah selalu untuk kalian di sana. Allah bless you all.

Read More

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena