Senin, 28 November 2011

Tentang Bunga Sakura

Sakura berasal dari kata "Saku" (bahasa Jepang yang artinya "mekar") ditambah dengan akhiran yang menyatakan bentuk jamak "ra". Dalam bahasa Inggris, bunga Sakura disebut cherry blossom.

Sakura merupakan bunga nasional negara Jepang yang mekar pada musim semi (awal April hingga akhir April). Bagi orang Jepang, bunga Sakura merupakan simbol penting yang kerap diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, sehingga kita dapat menemukan lambang bunga Sakura di mana saja di Jepang -pada barang-barang konsumen seperti kimono, alat-alat tulis dan peralatan dapur. Bunga Sakura juga merupakan simbol untuk mengekspresikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan dan kegembiraan. Sakura juga menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal bagi masyarakat Jepang.

Pohon Sakura merupakan pohon yang tergolong dalam familia Rosaceae, genus Prunus yang sejenis dengan pohon plum, peach atau apricot, tetapi secara umum Sakura digolongkan dalam subgenus sakura.
Bunga Sakura

Warna bunga tergantung pada spesiesnya, ada yang berwarna putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda, merah jambu, hijau muda atau merah menyala. Bunga digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan susunan daun mahkota:

* bunga tunggal dengan daun mahkota selapis
* bunga ganda dengan daun mahkota berlapis
* bunga semi ganda

Pohon Sakura berbunga setahun sekali, di pulau Honshu, kuncup bunga Sakura jenis Someiyoshino mulai terlihat di akhir musim dingin dan bunganya mekar di akhir bulan Maret sampai awal bulan April di saat Cuaca mulai hangat.

Di Jepang, mekarnya Sakura jenis Someiyoshino dimulai dari Okinawa di bulan Februari, dilanjutkan di pulau Honshu bagian sebelah barat, sampai di Tokyo, Osaka, Kyoto pada sekitar akhir Maret sampai awal April, lalu bergerak sedikit demi sedikit ke utara, dan berakhir di Hokkaido di saat Golden Week.

Setiap tahunnya pengamat Sakura mengeluarkan peta pergerakan mekarnya bunga Sakura Someiyoshono dari Barat ke timur lalu utara yang disebut Sakurazensen. Dengan menggunakan peta Sakurazensen dapat diketahui lokasi bunga Sakura yang sedang mekar pada saat tertentu.
Ciri Khas

bunga sakura Ciri khas Sakura jenis Someiyoshino adalah bunganya yang lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya mulai keluar. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan batang pohon yang berada di lokasi yang sama, bunganya mulai mekar secara serentak dan rontok satu per satu pada saat yang hampir bersamaan.

Bunga Sakura jenis Someiyoshino hanya dapat bertahan kurang lebih 7 sampai 10 hari dihitung mulai dari kuncup bunga terbuka hingga bunga mulai rontok. Rontoknya bunga Sakura tergantung pada keadaan cuaca dan sering dipercepat oleh hujan lebat dan angin kencang. Beberapa jenis burung dikenal suka memakan bagian bunga yang berasa manis, sedangkan burung merpati memakan seluruh bagian bunga.

Kesempatan langka piknik beramai-ramai di bawah pohon Sakura untuk menikmati mekarnya bunga Sakura disebut o-hanami. Saat melakukan O-hanami adalah ketika semua pohon Sakura yang ada di suatu tempat bunganya sudah mekar semua.

Di Jepang terdapat standar untuk menyampaikan informasi tingkat mekar bunga Sakura, mulai dari terbukanya kuncup bunga (Kaika), mekarnya 10% dari kuncup bunga yang ada di pohon (Ichibuzaki) sampai bunga mekar seluruhnya (Mankai). Bunga yang rontok segera digantikan dengan keluarnya daun-daun muda. Pohon Sakura yang bunganya mulai rontok dan mulai tumbuh daun-daun muda sebanyak 10% disebut Ichibu hazakura, sedangkan pohon Sakura yang semua bunga sudah rontok dan hanya mempunyai daun-daun muda disebut Hazakura.

Bunga dari pohon jenis Yamazakura mekar lebih lambat dibandingkan jenis Someiyoshino dan bunganya mekar bersamaan dengan keluarnya daun-daun muda.

Jenis-Jenis Pohon Sakura

Sebagian besar jenis pohon Sakura merupakan hasil persilangan, misalnya jenis Someiyoshino yang tersebar di seluruh Jepang sejak zaman Meiji adalah hasil persilangan pohon Sakura di zaman Edo akhir. Sakura jenis Someiyoshino inilah yang sangat tersebar luas, sehingga kebanyakan orang hanya mengenal Someiyoshino (yang merupakan salah satu jenis Sakura) sebagai Sakura.

Pada zaman dulu sebelum ada jenis Someiyoshino, orang Jepang mengenal bunga Sakura yang mekar di pegunungan yang disebut Yamazakura dan Yaezaki no Sakura sebagai Sakura. Di saat mekarnya bunga Sakura, ribuan batang pohon Yamazakura yang tumbuh di pegunungan Yoshino (Prefektur Nara) menciptakan pemandangan menakjubkan warna putih, hijau muda, dan merah jambu.

Beberapa jenis Sakura:

* Edohigan

Edohigan adalah Sakura yang mekar di Hari Ekuinoks Musim Semi dan bunganya paling panjang umur. Jenis-jenis lain yang serupa dengan Edohigan adalah Ishiwarizakura dan Yamadakashinyozakura yang termasuk pohon Sakura yang dilindungi. Miharutakizakura adalah salah satu jenis Edohigan yang rantingnya menjuntai-juntai, sedangkan Yaebenishidare dikenal daun bunganya yang banyak dan warnanya yang cerah.

* Hikanzakura

Hikanzakura atau disebut juga Kanhizakura adalah Sakura yang tersebar mulai dari wilayah Tiongkok bagian selatan sampai ke Pulau Formosa. Kanhizakura banyak ditemukan tumbuh liar di Prefektur Okinawa. Di benak orang Okinawa, kata "Sakura" sering berarti Hikansakura. Pengumuman mekarnya bunga Sakura di Okinawa biasanya berarti mekarnya Hikanzakura. Di Okinawa, kuncup bunga Hikanzakura mulai terbuka sekitar bulan Januari atau Februari. Di Pulau Honshu, Hikanzakura banyak ditanam mulai dari wilayah Kanto sampai ke Kyushu dan biasanya mulai mekar sekitar bulan Februari atau Maret.

* Fuyuzakura

Fuyuzakura adalah jenis pohon Sakura yang bunganya mekar sekitar bulan November sampai akhir bulan Desember. Onishimachi di Prefektur Gunma adalah tempat melihat Fuyuzakura yang terkenal.

Sakura dan Buah Ceri

Pohon Sakura menghasilkan buah yang dikenal sebagai buah Ceri (bahasa Jepang: Sakuranbo). Buah Ceri yang masih muda berwarna hijau dan buah yang sudah masak berwarna merah sampai merah tua hingga ungu. Walaupun bentuknya hampir serupa dengan buah Ceri kemasan kaleng yang dikenal di Indonesia, buah Ceri yang dihasilkan pohon Sakura ukurannya kecil-kecil dan rasanya tidak enak sehingga tidak dikonsumsi.

Pohon Sakura yang menghasilkan buah Ceri untuk keperluan konsumsi umumnya tidak untuk dinikmati bunganya dan hanya ditanam di perkebunan. Produsen buah Ceri terbesar di Jepang berada di Prefektur Yamagata. Buah Ceri produk dalam negeri Jepang seperti jenis Sato Nishiki harganya luar biasa mahal. Di Jepang, buah Ceri produksi dalam negeri hanya dibeli untuk dihadiahkan pada kesempatan istimewa. Buah Ceri yang banyak dikonsumsi masyarakat di Jepang adalah buah Ceri yang diimpor dari negara bagian Washington dan California di Amerika Serikat.
Read More

Senin, 21 November 2011

Tentangmu Dalam Rasaku

Benar rasa ini telah berubah
menjadi seperti yang kau inginkan
walaupun sedikit aku paksakan...

Namun jauh dari segala hal
yang membuat perubahan itu,
semuanya tetap sama...

Aku adalah aku di 2006 silam
saat sebenarnya "hal itu" tanpa hambatan,
Aku adalah aku di 2006 silam
saat begitu polosnya mengagumimu,
Aku adalah aku di 2006 silam
saat aku kukuhkan egoku melawan egomu,

Namun kini....
Semuanya telah berbeda......

Jarak memang tak izinkanku bersamamu
tapi nadi ini seperti menyatu
nafas ini seperti bertemu
dan mata ini selalu mengikutimu

Aaargh...!!
Seharusnya aku mampu menjadikan'nya' tiada,
Karena SEJARAHmu hanya dapat ku jadikan kenangan...

Rasa itu...
Marah itu...
Senyum itu...
Masih terekam jelas dalam otakQ...
Read More

Rabu, 16 November 2011

Menakar Kekhilafan

Khilafkau …
Tak pernah memberikan ruang sedikit pun padamu untuk mengenal cinta lain selain pada cintaku yang maha, sehingga mungkin saja kau merasa bosan dan jenuh sebab hanya mengenal satu warna cintaku saja, dan engkau pun berlalu menjauh.

Khilafkau …
Adalah Mebiarkanmu kedinginan di luar sana, mempersilahkan angin memanjati rambutmu dan menapaki alismu, sehingga ketika kubelai kau dengan ketulusanku semuanya tak lagi bermakna, sebab kau lebih merasa nyaman di luar sana, dan kau pun lenyap menghilang.

Khilafkau …
Adalah Terlalu mengagungkan dan mengagumimu, tanpa berpikir panjang bahwa semuanya hanya sekedar ilusi dan fantasi dari inderaku yang tak jarang sering menipu, sementara jauh di luar sana yang terjadi malah biasa-biasa saja, malah keagungan dan mengagumimu hanya fana saja, dan kepergianmu pun tak terbendung.

Khilafkau …
Melupakan kenyataan tentang bahawa “Cinta bukanlah segala-galanya”, lebih dari itu segala atribut yang mencukupi untuk melanjutkan hidup itu lebih penting dan utama, sehingga ketika kutawarkan cinta sebagai pilihan hidup kau malah mentangan kirikannya. Dan kau pun berpaling, meninggalkanku dengan derita yang hingga saat ini masih tersisa.

Khilafkau …

Read More

Senin, 14 November 2011

Cinta Pertama

Masa-masa beradaptasi di tempat yang baru merupakan sesuatu yang sangat sulit aku lakukan, dan mugnkin kebanyak orang juga begitu. Terutama di kampusku ini, aku merasa benar-benar asing, tak tahu arah, dan satu langkah saja seakan-akan bisa membuatku tersesat. Untuk satu sampai dua minggu perjalananku sebagai mahasiswi, yang aku tahu hanya diriku sendiri dan tempatku yang baru. Benar-benar merasa sendiri. Tidak ada teman berbagi, tidak ada teman bercanda.
Sampai ahirnya, sampai suatu ketika aku mendaftar sebagai peserta Diklat Jurnalistik Dasar di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di fakultasku. Ara Aita, atau lebih sering disebut ARTA. Tidak jauh beda dengan prosesku beradaptasi dengan teman-teman kelasku, cukup membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk juga beradaptasi dan berteman baik dengan orang-orang ARTA. Tapi satu yang ku rasa, aku nyaman di sana. Hingga ahirnya, perjalanan proses adaptasiku yang lama menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Mungkin karena mereka yang di sana bukan hanya sebagai partner belajar, bukan hanya sebagai teman bercanda, bukan hanya sebagai tempat bertanya, tapi mereka seakan keluarga. Dan ARTA adalah cinta pertamaku di Fakultas Dakwah. Cinta pertamaku di kampus ini.
Aku menyebutnya, [ARTA beserta orang-orang yang berkecimpung di dalamnya] sebagai keluarga baru. Ketika ada waktu senggang disela-sela waktu kuliah, meskipun hanya 10 menit, aku bisa "pulang". Pulang ke tempat yang mungkin berukuran 5x5 m saja. Pulang menemui mereka yang berhasil buatku nyaman untuk belajar, bercanda dan tertawa. Pulang untuk sekedar menyapa orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang menganggap ARTA rumah mereka dan penghuni ARTA adalah keluarganya.
Senior yang bersahabat dan tak lelah mengajakku dan teman-teman untuk belajar membuat semangat kami semakin meninggi, seolah kita akan selamanya bisa seperti ini. Ada aku, Oneng, Fitrie, Dian, Shihab, Maing, double Risky (^_^), Kamkam, dan semuanya. Selalu tersenyum dan bergandengan tangan, apapun yang terjadi. Sampai suatu ketika aku sadar, bahwa kalimat "seperti apapun sayang kita terhadap sesuatu, ada saat dimana kita akan merasa jenuh terhadap sesuatu itu" adalah benar. Beberapa bulan setelah DJD dilaksanakan, kami memang masih ada, tapi berkurang. kuantitas yang seharusnya 26 orang mulai menyusut. Perlahan menghilang...
Orang-orang yang aku anggap keluarga, orang-orang yang mengisi kekosonganku di tempat baru ini, orang-orang yang mengukir tawa, pergi satu persatu. Mungkin bukan untuk selamanya, karena aku pikir mereka hanya sampai pada suatu titik. Jenuh. Yah, mereka hanya jenuh saja. Tapi sayangnya, kejenuhan itu di biarkan berjalan sesuai inginnya. Kadang aku merasa ini kesalahan terbesarku, karena ketika mereka jenuh, aku belum bisa berfikir bagaimana membuatt mereka kembali nyaman, aku belum bisa menanggapi dengan serius apa yang mereka ingin, padahal hanya hal kecil saja, mereka butuh refreshing. Mereka hanya butuh suasana baru, dan mereka tidak hanya ingin melihat ruang yang sedikit berantakan dengan ukuran 5x5 m saja.
Tapi untuk memahami itu sekarang? Terlambat! Bukan karena mereka yang tak punya kemauan dan kepedulian lagi terhadap ARTA, tapi sepertinya, terlebih karena mereka lupa [atau sengaja melupakan] satu sama lain. Memprihatinkan memang, bahkan mungkin mengenaskan. Kini mungkin hanya ada dua orang saja yang bertahan di keluarga baru itu, dan sayangnya, aku pun tak termasuk dari dua orang tersebut. Sekarang hanya ada Oneng dan Gopal.
Sempat terfikir untuk benar-benar pergi dari ARTA, keluar dari keluarga baru dan meninggalkan cinta pertama. Tapi harus berjuta kali aku tawarkan pada diriku sendiri bahwa ARTA masih bisa di perbaiki. ARTA masih bisa kembali dirangkul. Hanya saja aku sudah kehabisan akal untuk itu, aku tak tahu lagi untuk mengembalikan kobaran semangat yang dulu di miliki angkatanku. Angkatan Pena Kumbang 2010. Mereka sudah terlalu lama berada pada titik kejenuhan. Mereka terlalu lama lupa [atau sengaja melupakan] keluarga yang mereka punya. Dan aku, terlalu sombong dengan membiarkan semua itu.
Suatu saat nanti, ketika aku punya waktu untuk bersama menyulam cerita bersama cinta pertamaku, ingin sekali ku ajak mereka untuk belajar sambil bermain. Akan ku ajak mereka untuk menjauh titik kejenuhan. Akan ku ajak mereka untuk kembali merasakan hangatnya keluarga dan kebersamaan.
Dan bagaimanapun keadaannya sekarang, seperti apapun rupanya sekarang, aku masih menyayangi cinta pertama sekaligus keluarga baruku itu...
Read More

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena