Senin, 14 November 2011

Cinta Pertama

Masa-masa beradaptasi di tempat yang baru merupakan sesuatu yang sangat sulit aku lakukan, dan mugnkin kebanyak orang juga begitu. Terutama di kampusku ini, aku merasa benar-benar asing, tak tahu arah, dan satu langkah saja seakan-akan bisa membuatku tersesat. Untuk satu sampai dua minggu perjalananku sebagai mahasiswi, yang aku tahu hanya diriku sendiri dan tempatku yang baru. Benar-benar merasa sendiri. Tidak ada teman berbagi, tidak ada teman bercanda.
Sampai ahirnya, sampai suatu ketika aku mendaftar sebagai peserta Diklat Jurnalistik Dasar di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di fakultasku. Ara Aita, atau lebih sering disebut ARTA. Tidak jauh beda dengan prosesku beradaptasi dengan teman-teman kelasku, cukup membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk juga beradaptasi dan berteman baik dengan orang-orang ARTA. Tapi satu yang ku rasa, aku nyaman di sana. Hingga ahirnya, perjalanan proses adaptasiku yang lama menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Mungkin karena mereka yang di sana bukan hanya sebagai partner belajar, bukan hanya sebagai teman bercanda, bukan hanya sebagai tempat bertanya, tapi mereka seakan keluarga. Dan ARTA adalah cinta pertamaku di Fakultas Dakwah. Cinta pertamaku di kampus ini.
Aku menyebutnya, [ARTA beserta orang-orang yang berkecimpung di dalamnya] sebagai keluarga baru. Ketika ada waktu senggang disela-sela waktu kuliah, meskipun hanya 10 menit, aku bisa "pulang". Pulang ke tempat yang mungkin berukuran 5x5 m saja. Pulang menemui mereka yang berhasil buatku nyaman untuk belajar, bercanda dan tertawa. Pulang untuk sekedar menyapa orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang menganggap ARTA rumah mereka dan penghuni ARTA adalah keluarganya.
Senior yang bersahabat dan tak lelah mengajakku dan teman-teman untuk belajar membuat semangat kami semakin meninggi, seolah kita akan selamanya bisa seperti ini. Ada aku, Oneng, Fitrie, Dian, Shihab, Maing, double Risky (^_^), Kamkam, dan semuanya. Selalu tersenyum dan bergandengan tangan, apapun yang terjadi. Sampai suatu ketika aku sadar, bahwa kalimat "seperti apapun sayang kita terhadap sesuatu, ada saat dimana kita akan merasa jenuh terhadap sesuatu itu" adalah benar. Beberapa bulan setelah DJD dilaksanakan, kami memang masih ada, tapi berkurang. kuantitas yang seharusnya 26 orang mulai menyusut. Perlahan menghilang...
Orang-orang yang aku anggap keluarga, orang-orang yang mengisi kekosonganku di tempat baru ini, orang-orang yang mengukir tawa, pergi satu persatu. Mungkin bukan untuk selamanya, karena aku pikir mereka hanya sampai pada suatu titik. Jenuh. Yah, mereka hanya jenuh saja. Tapi sayangnya, kejenuhan itu di biarkan berjalan sesuai inginnya. Kadang aku merasa ini kesalahan terbesarku, karena ketika mereka jenuh, aku belum bisa berfikir bagaimana membuatt mereka kembali nyaman, aku belum bisa menanggapi dengan serius apa yang mereka ingin, padahal hanya hal kecil saja, mereka butuh refreshing. Mereka hanya butuh suasana baru, dan mereka tidak hanya ingin melihat ruang yang sedikit berantakan dengan ukuran 5x5 m saja.
Tapi untuk memahami itu sekarang? Terlambat! Bukan karena mereka yang tak punya kemauan dan kepedulian lagi terhadap ARTA, tapi sepertinya, terlebih karena mereka lupa [atau sengaja melupakan] satu sama lain. Memprihatinkan memang, bahkan mungkin mengenaskan. Kini mungkin hanya ada dua orang saja yang bertahan di keluarga baru itu, dan sayangnya, aku pun tak termasuk dari dua orang tersebut. Sekarang hanya ada Oneng dan Gopal.
Sempat terfikir untuk benar-benar pergi dari ARTA, keluar dari keluarga baru dan meninggalkan cinta pertama. Tapi harus berjuta kali aku tawarkan pada diriku sendiri bahwa ARTA masih bisa di perbaiki. ARTA masih bisa kembali dirangkul. Hanya saja aku sudah kehabisan akal untuk itu, aku tak tahu lagi untuk mengembalikan kobaran semangat yang dulu di miliki angkatanku. Angkatan Pena Kumbang 2010. Mereka sudah terlalu lama berada pada titik kejenuhan. Mereka terlalu lama lupa [atau sengaja melupakan] keluarga yang mereka punya. Dan aku, terlalu sombong dengan membiarkan semua itu.
Suatu saat nanti, ketika aku punya waktu untuk bersama menyulam cerita bersama cinta pertamaku, ingin sekali ku ajak mereka untuk belajar sambil bermain. Akan ku ajak mereka untuk menjauh titik kejenuhan. Akan ku ajak mereka untuk kembali merasakan hangatnya keluarga dan kebersamaan.
Dan bagaimanapun keadaannya sekarang, seperti apapun rupanya sekarang, aku masih menyayangi cinta pertama sekaligus keluarga baruku itu...

0 komentar:

Posting Komentar

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena