Rabu, 07 Desember 2011

Galau

Terkadang ingin sekali tiba-tiba langsung berhenti
namun waktu menuntutku untuk terus berjalan,
bahkan berlari...

Aku lelah...
karena sekencang apapun aku berlari
hasilnya tetap begini saja...
aku...berada di tempat yang sama

lalu aku berfikir,
tapi kemudian kembali ragu,
apa yg bisa dan patut dibanggakan?

seperti kehilangan arah,
seperti kehilangan pegangan,
bahkan nyaris kehilangan diriku...

Ingin menangis,
tapi untuk apa? kepada siapa?

seolah sendiri dan sepi dalam keramaian...

lelah...
fikirku mulai tak tentu,
bahkan tak ada tujuan..

lalu yang ada hanya bayangan
kemudian KOSONG. Gelap.
Read More

Senin, 28 November 2011

Tentang Bunga Sakura

Sakura berasal dari kata "Saku" (bahasa Jepang yang artinya "mekar") ditambah dengan akhiran yang menyatakan bentuk jamak "ra". Dalam bahasa Inggris, bunga Sakura disebut cherry blossom.

Sakura merupakan bunga nasional negara Jepang yang mekar pada musim semi (awal April hingga akhir April). Bagi orang Jepang, bunga Sakura merupakan simbol penting yang kerap diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, sehingga kita dapat menemukan lambang bunga Sakura di mana saja di Jepang -pada barang-barang konsumen seperti kimono, alat-alat tulis dan peralatan dapur. Bunga Sakura juga merupakan simbol untuk mengekspresikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan dan kegembiraan. Sakura juga menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal bagi masyarakat Jepang.

Pohon Sakura merupakan pohon yang tergolong dalam familia Rosaceae, genus Prunus yang sejenis dengan pohon plum, peach atau apricot, tetapi secara umum Sakura digolongkan dalam subgenus sakura.
Bunga Sakura

Warna bunga tergantung pada spesiesnya, ada yang berwarna putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda, merah jambu, hijau muda atau merah menyala. Bunga digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan susunan daun mahkota:

* bunga tunggal dengan daun mahkota selapis
* bunga ganda dengan daun mahkota berlapis
* bunga semi ganda

Pohon Sakura berbunga setahun sekali, di pulau Honshu, kuncup bunga Sakura jenis Someiyoshino mulai terlihat di akhir musim dingin dan bunganya mekar di akhir bulan Maret sampai awal bulan April di saat Cuaca mulai hangat.

Di Jepang, mekarnya Sakura jenis Someiyoshino dimulai dari Okinawa di bulan Februari, dilanjutkan di pulau Honshu bagian sebelah barat, sampai di Tokyo, Osaka, Kyoto pada sekitar akhir Maret sampai awal April, lalu bergerak sedikit demi sedikit ke utara, dan berakhir di Hokkaido di saat Golden Week.

Setiap tahunnya pengamat Sakura mengeluarkan peta pergerakan mekarnya bunga Sakura Someiyoshono dari Barat ke timur lalu utara yang disebut Sakurazensen. Dengan menggunakan peta Sakurazensen dapat diketahui lokasi bunga Sakura yang sedang mekar pada saat tertentu.
Ciri Khas

bunga sakura Ciri khas Sakura jenis Someiyoshino adalah bunganya yang lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya mulai keluar. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan batang pohon yang berada di lokasi yang sama, bunganya mulai mekar secara serentak dan rontok satu per satu pada saat yang hampir bersamaan.

Bunga Sakura jenis Someiyoshino hanya dapat bertahan kurang lebih 7 sampai 10 hari dihitung mulai dari kuncup bunga terbuka hingga bunga mulai rontok. Rontoknya bunga Sakura tergantung pada keadaan cuaca dan sering dipercepat oleh hujan lebat dan angin kencang. Beberapa jenis burung dikenal suka memakan bagian bunga yang berasa manis, sedangkan burung merpati memakan seluruh bagian bunga.

Kesempatan langka piknik beramai-ramai di bawah pohon Sakura untuk menikmati mekarnya bunga Sakura disebut o-hanami. Saat melakukan O-hanami adalah ketika semua pohon Sakura yang ada di suatu tempat bunganya sudah mekar semua.

Di Jepang terdapat standar untuk menyampaikan informasi tingkat mekar bunga Sakura, mulai dari terbukanya kuncup bunga (Kaika), mekarnya 10% dari kuncup bunga yang ada di pohon (Ichibuzaki) sampai bunga mekar seluruhnya (Mankai). Bunga yang rontok segera digantikan dengan keluarnya daun-daun muda. Pohon Sakura yang bunganya mulai rontok dan mulai tumbuh daun-daun muda sebanyak 10% disebut Ichibu hazakura, sedangkan pohon Sakura yang semua bunga sudah rontok dan hanya mempunyai daun-daun muda disebut Hazakura.

Bunga dari pohon jenis Yamazakura mekar lebih lambat dibandingkan jenis Someiyoshino dan bunganya mekar bersamaan dengan keluarnya daun-daun muda.

Jenis-Jenis Pohon Sakura

Sebagian besar jenis pohon Sakura merupakan hasil persilangan, misalnya jenis Someiyoshino yang tersebar di seluruh Jepang sejak zaman Meiji adalah hasil persilangan pohon Sakura di zaman Edo akhir. Sakura jenis Someiyoshino inilah yang sangat tersebar luas, sehingga kebanyakan orang hanya mengenal Someiyoshino (yang merupakan salah satu jenis Sakura) sebagai Sakura.

Pada zaman dulu sebelum ada jenis Someiyoshino, orang Jepang mengenal bunga Sakura yang mekar di pegunungan yang disebut Yamazakura dan Yaezaki no Sakura sebagai Sakura. Di saat mekarnya bunga Sakura, ribuan batang pohon Yamazakura yang tumbuh di pegunungan Yoshino (Prefektur Nara) menciptakan pemandangan menakjubkan warna putih, hijau muda, dan merah jambu.

Beberapa jenis Sakura:

* Edohigan

Edohigan adalah Sakura yang mekar di Hari Ekuinoks Musim Semi dan bunganya paling panjang umur. Jenis-jenis lain yang serupa dengan Edohigan adalah Ishiwarizakura dan Yamadakashinyozakura yang termasuk pohon Sakura yang dilindungi. Miharutakizakura adalah salah satu jenis Edohigan yang rantingnya menjuntai-juntai, sedangkan Yaebenishidare dikenal daun bunganya yang banyak dan warnanya yang cerah.

* Hikanzakura

Hikanzakura atau disebut juga Kanhizakura adalah Sakura yang tersebar mulai dari wilayah Tiongkok bagian selatan sampai ke Pulau Formosa. Kanhizakura banyak ditemukan tumbuh liar di Prefektur Okinawa. Di benak orang Okinawa, kata "Sakura" sering berarti Hikansakura. Pengumuman mekarnya bunga Sakura di Okinawa biasanya berarti mekarnya Hikanzakura. Di Okinawa, kuncup bunga Hikanzakura mulai terbuka sekitar bulan Januari atau Februari. Di Pulau Honshu, Hikanzakura banyak ditanam mulai dari wilayah Kanto sampai ke Kyushu dan biasanya mulai mekar sekitar bulan Februari atau Maret.

* Fuyuzakura

Fuyuzakura adalah jenis pohon Sakura yang bunganya mekar sekitar bulan November sampai akhir bulan Desember. Onishimachi di Prefektur Gunma adalah tempat melihat Fuyuzakura yang terkenal.

Sakura dan Buah Ceri

Pohon Sakura menghasilkan buah yang dikenal sebagai buah Ceri (bahasa Jepang: Sakuranbo). Buah Ceri yang masih muda berwarna hijau dan buah yang sudah masak berwarna merah sampai merah tua hingga ungu. Walaupun bentuknya hampir serupa dengan buah Ceri kemasan kaleng yang dikenal di Indonesia, buah Ceri yang dihasilkan pohon Sakura ukurannya kecil-kecil dan rasanya tidak enak sehingga tidak dikonsumsi.

Pohon Sakura yang menghasilkan buah Ceri untuk keperluan konsumsi umumnya tidak untuk dinikmati bunganya dan hanya ditanam di perkebunan. Produsen buah Ceri terbesar di Jepang berada di Prefektur Yamagata. Buah Ceri produk dalam negeri Jepang seperti jenis Sato Nishiki harganya luar biasa mahal. Di Jepang, buah Ceri produksi dalam negeri hanya dibeli untuk dihadiahkan pada kesempatan istimewa. Buah Ceri yang banyak dikonsumsi masyarakat di Jepang adalah buah Ceri yang diimpor dari negara bagian Washington dan California di Amerika Serikat.
Read More

Senin, 21 November 2011

Tentangmu Dalam Rasaku

Benar rasa ini telah berubah
menjadi seperti yang kau inginkan
walaupun sedikit aku paksakan...

Namun jauh dari segala hal
yang membuat perubahan itu,
semuanya tetap sama...

Aku adalah aku di 2006 silam
saat sebenarnya "hal itu" tanpa hambatan,
Aku adalah aku di 2006 silam
saat begitu polosnya mengagumimu,
Aku adalah aku di 2006 silam
saat aku kukuhkan egoku melawan egomu,

Namun kini....
Semuanya telah berbeda......

Jarak memang tak izinkanku bersamamu
tapi nadi ini seperti menyatu
nafas ini seperti bertemu
dan mata ini selalu mengikutimu

Aaargh...!!
Seharusnya aku mampu menjadikan'nya' tiada,
Karena SEJARAHmu hanya dapat ku jadikan kenangan...

Rasa itu...
Marah itu...
Senyum itu...
Masih terekam jelas dalam otakQ...
Read More

Rabu, 16 November 2011

Menakar Kekhilafan

Khilafkau …
Tak pernah memberikan ruang sedikit pun padamu untuk mengenal cinta lain selain pada cintaku yang maha, sehingga mungkin saja kau merasa bosan dan jenuh sebab hanya mengenal satu warna cintaku saja, dan engkau pun berlalu menjauh.

Khilafkau …
Adalah Mebiarkanmu kedinginan di luar sana, mempersilahkan angin memanjati rambutmu dan menapaki alismu, sehingga ketika kubelai kau dengan ketulusanku semuanya tak lagi bermakna, sebab kau lebih merasa nyaman di luar sana, dan kau pun lenyap menghilang.

Khilafkau …
Adalah Terlalu mengagungkan dan mengagumimu, tanpa berpikir panjang bahwa semuanya hanya sekedar ilusi dan fantasi dari inderaku yang tak jarang sering menipu, sementara jauh di luar sana yang terjadi malah biasa-biasa saja, malah keagungan dan mengagumimu hanya fana saja, dan kepergianmu pun tak terbendung.

Khilafkau …
Melupakan kenyataan tentang bahawa “Cinta bukanlah segala-galanya”, lebih dari itu segala atribut yang mencukupi untuk melanjutkan hidup itu lebih penting dan utama, sehingga ketika kutawarkan cinta sebagai pilihan hidup kau malah mentangan kirikannya. Dan kau pun berpaling, meninggalkanku dengan derita yang hingga saat ini masih tersisa.

Khilafkau …

Read More

Senin, 14 November 2011

Cinta Pertama

Masa-masa beradaptasi di tempat yang baru merupakan sesuatu yang sangat sulit aku lakukan, dan mugnkin kebanyak orang juga begitu. Terutama di kampusku ini, aku merasa benar-benar asing, tak tahu arah, dan satu langkah saja seakan-akan bisa membuatku tersesat. Untuk satu sampai dua minggu perjalananku sebagai mahasiswi, yang aku tahu hanya diriku sendiri dan tempatku yang baru. Benar-benar merasa sendiri. Tidak ada teman berbagi, tidak ada teman bercanda.
Sampai ahirnya, sampai suatu ketika aku mendaftar sebagai peserta Diklat Jurnalistik Dasar di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di fakultasku. Ara Aita, atau lebih sering disebut ARTA. Tidak jauh beda dengan prosesku beradaptasi dengan teman-teman kelasku, cukup membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk juga beradaptasi dan berteman baik dengan orang-orang ARTA. Tapi satu yang ku rasa, aku nyaman di sana. Hingga ahirnya, perjalanan proses adaptasiku yang lama menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Mungkin karena mereka yang di sana bukan hanya sebagai partner belajar, bukan hanya sebagai teman bercanda, bukan hanya sebagai tempat bertanya, tapi mereka seakan keluarga. Dan ARTA adalah cinta pertamaku di Fakultas Dakwah. Cinta pertamaku di kampus ini.
Aku menyebutnya, [ARTA beserta orang-orang yang berkecimpung di dalamnya] sebagai keluarga baru. Ketika ada waktu senggang disela-sela waktu kuliah, meskipun hanya 10 menit, aku bisa "pulang". Pulang ke tempat yang mungkin berukuran 5x5 m saja. Pulang menemui mereka yang berhasil buatku nyaman untuk belajar, bercanda dan tertawa. Pulang untuk sekedar menyapa orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang menganggap ARTA rumah mereka dan penghuni ARTA adalah keluarganya.
Senior yang bersahabat dan tak lelah mengajakku dan teman-teman untuk belajar membuat semangat kami semakin meninggi, seolah kita akan selamanya bisa seperti ini. Ada aku, Oneng, Fitrie, Dian, Shihab, Maing, double Risky (^_^), Kamkam, dan semuanya. Selalu tersenyum dan bergandengan tangan, apapun yang terjadi. Sampai suatu ketika aku sadar, bahwa kalimat "seperti apapun sayang kita terhadap sesuatu, ada saat dimana kita akan merasa jenuh terhadap sesuatu itu" adalah benar. Beberapa bulan setelah DJD dilaksanakan, kami memang masih ada, tapi berkurang. kuantitas yang seharusnya 26 orang mulai menyusut. Perlahan menghilang...
Orang-orang yang aku anggap keluarga, orang-orang yang mengisi kekosonganku di tempat baru ini, orang-orang yang mengukir tawa, pergi satu persatu. Mungkin bukan untuk selamanya, karena aku pikir mereka hanya sampai pada suatu titik. Jenuh. Yah, mereka hanya jenuh saja. Tapi sayangnya, kejenuhan itu di biarkan berjalan sesuai inginnya. Kadang aku merasa ini kesalahan terbesarku, karena ketika mereka jenuh, aku belum bisa berfikir bagaimana membuatt mereka kembali nyaman, aku belum bisa menanggapi dengan serius apa yang mereka ingin, padahal hanya hal kecil saja, mereka butuh refreshing. Mereka hanya butuh suasana baru, dan mereka tidak hanya ingin melihat ruang yang sedikit berantakan dengan ukuran 5x5 m saja.
Tapi untuk memahami itu sekarang? Terlambat! Bukan karena mereka yang tak punya kemauan dan kepedulian lagi terhadap ARTA, tapi sepertinya, terlebih karena mereka lupa [atau sengaja melupakan] satu sama lain. Memprihatinkan memang, bahkan mungkin mengenaskan. Kini mungkin hanya ada dua orang saja yang bertahan di keluarga baru itu, dan sayangnya, aku pun tak termasuk dari dua orang tersebut. Sekarang hanya ada Oneng dan Gopal.
Sempat terfikir untuk benar-benar pergi dari ARTA, keluar dari keluarga baru dan meninggalkan cinta pertama. Tapi harus berjuta kali aku tawarkan pada diriku sendiri bahwa ARTA masih bisa di perbaiki. ARTA masih bisa kembali dirangkul. Hanya saja aku sudah kehabisan akal untuk itu, aku tak tahu lagi untuk mengembalikan kobaran semangat yang dulu di miliki angkatanku. Angkatan Pena Kumbang 2010. Mereka sudah terlalu lama berada pada titik kejenuhan. Mereka terlalu lama lupa [atau sengaja melupakan] keluarga yang mereka punya. Dan aku, terlalu sombong dengan membiarkan semua itu.
Suatu saat nanti, ketika aku punya waktu untuk bersama menyulam cerita bersama cinta pertamaku, ingin sekali ku ajak mereka untuk belajar sambil bermain. Akan ku ajak mereka untuk menjauh titik kejenuhan. Akan ku ajak mereka untuk kembali merasakan hangatnya keluarga dan kebersamaan.
Dan bagaimanapun keadaannya sekarang, seperti apapun rupanya sekarang, aku masih menyayangi cinta pertama sekaligus keluarga baruku itu...
Read More

Selasa, 18 Oktober 2011

Hari Cenat Cenut

Hari ini, setelah aku menghadiri acara technical meeting di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, aku segera membeli barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan OSPEK kampus. Hingga sore, aku belum selesai membeli barang-barang yang aku butuhkan besok pagi. Hhuuft…capek banget. Apalagi belinya sendiri. Fiuh!
Tak lama ketika aku mendapatkan tempat untuk beristirahat, mama meneleponku,
“Ya, Ma?” tanyaku saat Mama memanggil namaku.
“Beli barang-barang untuk OSPEK kok lama?” Tanya Mama.
“Iya nih, Ma, barang yang harus dibeli aneh-aneh tapi udah hampir selesai kok. Sekarang tinggal cari kaos kaki olahraga warna merah polos.” Jawabku sambil menyeruput minuman yang aku beli tadi.
“Emang kamu belinya dimana?”
“Ya ini lagi muter-muter di toko olahraga, tapi udah beberapa toko, aku belum dapet kaos kaki itu, Ma. Ugh…capek!” Keluhku.
“Ya udah, istirahat dulu bentar, setelah itu baru cari lagi.”
“Iya, Ma. Ini juga dari tadi memang lagi istirahat.”
Klik. Telepon di tutup. Kemudian aku kembali mencari kaos kaki yang aku beri nama, kaos kaki terkutuk! Hm…kalo gak karena OSPEK, mana mau aku beli kaos kaki bola selutut? Gila! Nggak banget. Aneh deh panitia, dapet ilham pake kostum ajaib dari mana sih?
Tapi ahirnya setelah berkeliling sambil lirik sana-sini dan masuk dari toko sport satu ke toko sport yang lain, aku dapatkan kaos kaki terkutuk itu. Hhh…syukurlah. Dengan gerak cepat, aku segera pulang untuk segera menyiapkan barang-barang yang lain.

15 menit kemudian aku sampai di rumah dengan wajah pucat karena kelelahan. Di halaman rumah sore itu, orang pertama yang aku temui adalah Rani, adikku.
“Kak Riena kenapa tuh? Kusut banget wajahnya?” Sapanya sambil memperhatikanku yang sempoyongan dengan membawa beberapa plastik belanjaan.
“Jangan banyak tanya, kakak mau mandi terus makan. Setelah itu kamu WAJIB bantu kakak nyiapin perlengkapan OSPEK besok!” ujarku dengan menekankan kata wajib dan memasang tampang seserius dan sejutek mungkin, berharap agar adik semata wayangku ini membantu.
“Kalo minta tolong itu yang baik dan pake tampang manis, bukan malah sok galak gitu. Siapa yang mau nolongin?” katanya santai sambil tetap menyirap bunga yang ada di halaman rumah. Kalo gini jadinya, terpaksa dengan menggunakan bahasa yang dihalus-halusin aku memintanya untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya nanti malam. Ahirnya dia mau, tapi nggak lupa dengan traktiran eskrim favoritnya. Ugh! Gerutuku dalam hati.

Pukul 22.00 WIB.
Kantukku udah nggak bisa ditahan lagi. Untung saja semua keperluan OSPEK sudah aku siapkan, dan tentu saja dengan bantuan Rani serta Mama. Tak lama setelah berterimakasih kepada mereka berdua aku merebahkan tubuhku di dalam kamar. Hari ini lelah, tapi pasti nggak akan sebanding sama kelelahan yang akan ku alami besok dan selanjutnya, di hari-hari OSPEK. Membayangkan pakaianku yang aneh, dengan sepatu bola merah selutut dan kacamata hitam membuatku ngeri setengah mati. Belum lagi bentakan-bentakan yang akan aku dapatkan dari senior. Haduh…ampun deh!
Akan tetapi dengansegala harap dan kuasa Tuhan, aku berharap nggak melanggar sedikitpun peraturan yang telah dibuat oleh panitia. Perlahan sambil lalu membayangkan lagi wajah-wajah senior dengan tampang galak, atau mungkin lebih tepatnya sok galak, aku mulai terlelap kemudian pergi bersama mimpiku malam itu.

¥

Setibanya aku di kampus baru pagi harinya.

Dengan pakaian yang serba aneh dan ajaib, aku memasuki kampus baruku, dan aku baru sadar kalau banyak teman-teman yang sudah berkumpul dan membentuk barisan sesuai kelompok masing-masing sesuai dengan ketentuan panitia.
Awalnya aku berjalan santai ke arah barisan tersebut, namun seorang panitia dengan wajah seram-mungkin ini panitia bagian keamanan-memanggilku.
“Heh kamu! Lari menuju barisan! Jangan leyeh-leyeh gitu jalannya!!!” bentaknya. Dan seketika aku berlari, namun sialnya, aku nggak nyadar ada sebuah batu besar yang saat itu ada di depanku. Lalu dengan gerakan yang tak terduga dan tidak dapat di elak lagi, aku jatuh!
“HAHAHAHA!!!” otomatis gelak tawa membahana di tempat itu. Sumpah! Aku malu banget! Karena terburu-buru aku nggak nyadar ada batu sebesar sepatu kets yang nangkring di depanku tepat waktu aku mau lari tadi.
“Makanya, kalau mau lari liat-liat dulu.” Ujar salah satu panitia yang tingginya bahkan tidak melebihiku.
‘Ugh…coba bukan panitia, tambah aku pites nih orang! Biar sekalian tambah kecil!!’ runtukku dalam hati sambil segera berdiri dan menghampiri kelompokku.

Setengah  hari berlalu, dan segala hal berjalan semestinya kecuali adegan memalukan tadi pagi di depan semua panitia dan peserta OSPEK. Setelah acara pengenalan kampus selesai, semua peserta OSPEK kembali berbaris di halaman. Panas-panas begini, tega banget yach. Mana laper, gerah, ugh…pengen banget nimpuk kepala senior yang terus aja berceloteh di depan itu tanpa memikirkan perut-perut peserta yang sudah berceloteh kelaparan!!
Dengan malas-malasan aku memainkan sebuah batu sebesar bola bekel dan melemparkannya tak sengaja ke sembarang arah. Lalu…
“Aaw! Siapa yang melempar batu ke arahku?” sadar karena itu pasti batu yang tadi aku lempar semabarangan, aku menunduk. Duh…parah!
“Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua tidak akan mendapatkan jatah makan siang dan harus lari keliling lapangan ini!” ujarnya lagi.
Oh my God! Apa gak gila tuch!? Panas terik begini disuruh lari keliling lapangan? Aku mulai mendongak, melihat kakak mana yang bicara, aku tau harus bertanggung jawab karena perbuatanku kalau gak mau semua teman-teman yang akan menjadi korbannya.
Tiba-tiba aku kembali kikuk setelah tau seperti kakak senior yang aku timpuk tadi. Duh…serem! Udah badan tinggi, gemuk, item pula! Mana berani aku ngaku? Hhm…kayaknya aku bisa aja ditelan idup-idup! Fiuh…kerikil kecil aja kok kak, gak usah jadiin masalah besar napa?
“Hei…kamu kan yang ngelempar tadi? Ngaku gih, masak tega semua temen kita kamu biarin lari keliling lapangan?” bisik teman di belakangku.
“Tapi aku kan gak sengaja, aku lagi kesel aja terus lempar sembarangan.” Belaku pada diri sendiri.
“Tapi tetep kamu yang salah kan? Sono gih…!”
“Nggak! Aku nggak sengaja!!” suaraku meninggi dan otomatis begitu terdengar ditengah peserta OSPEK yang mulai ketakutan melihat  tampang garang kakak item itu.
“Heh…kamu!” ujar kakak itu entah kepada siapa, namun aku gak berani melihat untuk tau dia tujukan kepada siapa kalimat itu. Tak lama kemudian ada yang menepuk bahuku.
“Udah gak dengerin sekarang malah ngegosip di sini! Maju!” Gdubrrak! Kakak menyeramkan itu menyuruhku ke depan, dan otomatis semua mata lelah tertuju kepadaku. Apes…apes…gerutuku.
“Ooh…kamu yang jatuh tadi pagi itu kan?” tanya kakak menyeramkan itu setalah aku berada di paling depan dan menghadap ke semua peserta OSPEK.
“Iya, kak.” Jawabku lirih.
“Kamu juga yang berbicara sendiri?” tanyanya lagi.
“Iya, kak.” Jawabku lebih lirih lagi. Takut.
“Jangan-jangan, kamu juga yang ngelempar batu ini?” tanyanya lebih garang dengan sorot mata penasaran dan masih dengan sikap sok cool.
Oh my God! Kalau aku bilang, bisa mati berdiri karena jantungan dia bentak-bentak ‘ntar. Glek.
“Diam berarti iya??? Ngaku aja, kalo perbuat harus berani bertanggung jawab apapun resikonya,” tanya panitia lain, yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Aku hanya mengangguk pasrah, apapun hukumannya akan aku terima saja. Fiuh..
“Bagus. Sekarang kamu jalan keliling lapangan ini sambil berkata, Aku minta Maaf Kak Tony yang ganteng, Aku salah. Cepet!!!”
Alhasil, dengan sisa tenaga diterik ini, aku melakukan semua yang dia mau. Teriak-teriak seperti orang gila, dengan mengatakan sesuatu yang aku sendiri eneg dengernya.

¥

Hari-hari OSPEK yang menyebalkan ahirnya berlalu, dan sekarang adalah malam inagurasi di mana semua peserta diberi kesempatan untuk menampilkan segala sesuatu yang mereka bisa dan yang pasti nggak malu-maluin.
Setelah teriak-teriak sambil mengelilingi lapangan, memperagakan cara berjalan model di depan peserta OSPEK, serta ngerayu kakak senior yang tampangnya nggak banget, ahirnya penderitaanku selesai. Lega…banget! Dengan bahagia ahirnya aku bisa teriak kegirangan karena moment paling menyebalkan yang pernah aku alami sudah berakhir.

Di malam inagurasi ini, aku sengaja untuk tidak menampilkan apapun. Aku lelah berurusan dengan yang namanya senior. Tapi seorang senior yang aku tahu namanya adalah Fajar, mengajakku menyanyi bersama di acara pembuka malam inagurasi ini. Satu-satunya senior yang aku suka, karena nggak pernah nyuruh yang aneh-aneh ke peserta OSPEK dan juga menjabat sebagai ketua panitia OSPEK tahun ini.
Hhm…aku sempat nggak percaya bahwa yang dia ajak adalah aku. OMG…!!! Teriakku dalam hati. Lalu tanpa lagi berpikir lama-lama, aku menaiki tangga panggung dengan grogi dan deg-degan. Nggak pernah kebayang sebelumnya bisa berdiri di samping ketua OSPEK yang cakep, baik hati dan tidak sombong ini. Yah…mungkin ini happy ending yang pantas aku terima setelah beberapa hari ini dikerjain habis-habisan oleh senior yang lain.
Akan tetapi, karena terlalu grogi dan keasyikan melamun, aku nggak terlalu memperhatikan tangga yang aku naiki dan…
Gdubrraakkk!!!
Aku jatuh di depan seluruh mahluk Tuhan! Kak Fajar yang awalnya memainkan gitarnya berhenti seketika dan memperhatikanku. Duh, malu-maluin banget sich! Runtukku terlebih pada diri sendiri.
“Kak Riena, ayo bangun…”
Di tengah peserta OSPEK yang tertawa membahana melihatku terjatuh kenapa aku bisa mendengar suara Rani, adikku? Kayaknya dia nggak bilang mau ikut deh!
“Kak Riena, ih…AYO BANGUN!!!”
Aku tersadar dan membuka mata, melihat sekeliling. Sepi.
“Kenapa aku di kamarku Ran?” tanyaku bego.
“Lho, seharusnya aku yang tanya, kenapa kak Riena bobok di bawah???”
“Ya ampun! Ternyata tadi aku bukan jatuh dari tangga ya?”
“Hah??? Mo jatuh dari tangga mana? La wong ini kamar!! Yang ada jatuh dari kasur, kak!” Kata Rani memperhatikanku dengan aneh. Aku paham dia nggak ngerti yang aku bicarain. Dan aku baru sadar, semua hanyalah MIMPI. Penderitaan OSPEK bukan berahir tapi baru akan dimulai hari ini!!!
Dengan gerak cepat, aku segera bangkit dan melirik jam pinguin yang terpajang manis di dinding kamarku. 05.45 WIB.
“RANI…!!! KENAPA NGGAK BANGUNIN DARI TADI??? KAKAK HARUS DI KAMPUS TEPAT JAM 6!!!” teriakku marah-marah sambil segera menuju kamar mandi. Sayup-sayup dari kamar mandi aku mendengar Rani menggerutu bahwa dia telah membangunkanku sejak shubuh. Tapi masa bodo ah, yang penting sekarang harus mandi dan siap-siap menghadapi OSPEK sekilat mungkin! Dan firasatku mengatakan, mimpi itu akan menjadi nyata! Aku akan segera mengahadapi hari-hari sialku!!!


Read More

Sabtu, 30 Juli 2011

Hujan Bersama Kita

Created by Yenny Yenz
Hentak langkah bersama hujan tak hentikanku berlari menuju suatu tempat yang menjadi kenangan kita. Beberapa bulan lalu, sebelum semuanya berubah aku tetap duduk diam bersamamu ditempat itu, tapi kini hanya tersisa kenangan yang tak pernah lenyap dari fikirku. Hujan tak lelah berhenti dan aku pun tak lelah berlari menyusuri jalan setapak ini, aku ingin melihatmu bersama pelangi seperti waktu itu. Walaupun aku tahu, itu hanyalah mimpi dan khayalanku, karena saat ini kau telah pergi. Entah kemana…
Langkahku terhenti, aku duduk dibawah sebuah pohon rindang dengan sisa gerimis, dengan tubuh yang basah kuyup dan hanya bertemankan bayangmu.
Sangat jelas ingatanku tentangmu, tentang kita yang tak pernah lelah melihat bintang ketika malam, juga tentang kita yang bersama bermain dibawah gerimis. ah! Ingatan itu sangat pekat hingga sakit ulu hatiku mengingatnya.
                “Ve, seandainya kamu bisa minta pada Tuhan, apa yang paling kamu inginkan saat ini?” Tanya Orion dengan mata nanar, baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
                “Aku ingin persahabatan kita selamanya tak ‘kan dipisahkan jarak dan waktu.” Jawabku sungguh-sungguh.
                “Seandainya persahabatan ini nantinya akan berakhir, bagaimana?” Tanyanya mengagetkanku. Aku menatapnya lekat, lalu sedetik kemudian matanya sayu, seolah menahan  tangis.
                “Ri, ada apa???” tanyaku kembali tanpa membalas pertanyaan yang dia lontarkan padaku.
                “Maaf, jika saatnya nanti aku harus pergi. Aku berharap kamu bisa bahagia.”
                “Kamu mau kemana? Berani tinggalin aku sendiri?” aku tak paham maksudnya.
                “Ve, aku sayang kamu. Dan kamu tau pasti seperti apa perasaan ini, tidak hanya sebatas sayang seorang sahabat saja, dan…”
                “Cukup, Ri!” aku memutus kata-katanya. “Kamu juga tau pasti kan kalau aku lebih bahagia kita sebagai sahabat, sahabatku segalanya untukku. Aku tidak ingin kita pacaran, putus, lalu tak ada kabar. Aku nggak mau kehilangan kamu, aku nggak mau kebersamaan ini pergi.” Lanjutku, berharap dia mau mengerti.
                “Tak lama lagi semuanya akan pergi, perasaanku berkata seperti itu.” Ujarnya lirih.
Sesaat kemudian aku berdiri. Aku tetap tidak paham maksudnya, tapi aku menarik kesimpulan dia ingin menjauh. Aku menahan keras air mataku agar tidak mengalir, aku harus kuat. Tak boleh menangis.
                “Ve, kamu lebih suka mana gerimis atau hujan?” diapun ikut berdiri tepat disampingku, sama-sama melihat bintang. Dan mengalihkan topik pembicaraan. Dan bodohnya, aku ikut saja pembicaraan berikutnya tanpa ada hal yang jelas pada percakapan sebelumnya.
                “Aku suka hujan. Kamu?” aku balik bertanya.
                “Gerimis.” jawab Orion singkat.
                “Tapi gerimis itu nanar dan tidak pasti.”
                “Aku suka gerimis, yang kemudian berubah menjadi hujan.”
Aku takjub dengan jawabnya, dia memang selalu penuh kejutan dengan bahasanya, ku berikan seulas senyum untuk sahabatku ini, lalu aku berkata dalam hati, “Semoga kau terus bahagia melihat hujan…dan maaf, rasa itu tidak bisa aku balas.”
                “Hei….kenapa melamun?!” seseorang mengagetkanku dan mengembalikan kesadaranku lagi. Membuatku kembali pada duniaku, meninggalkan hayalanku tentang Orion, sahabat kecilku yang kini telah pergi.
                “Kenapa kaget? Orion lagi yang kamu pikirkan?” tebak Alika, gadis manis yang berdiri disamping seseorang yang mengagetkanku barusan. Mereka adalah Alika dan Fatir, sahabatku sejak SMA, sahabat yang menggantikan posisi Orion dihatiku, tapi tak mampu hilangkan setiap kenangan bersama Orion yang masih sangat jelas terekam dalam otakku.
                “Coba lihat, kamu sungguh berantakan. Tubuhmu basah kuyup dan menggigil.” Dengan tulus Fatir memakaikan jaketnya padaku. Aku tersenyum ikhlas padanya, lalu berucap terimakasih perlahan.
                “Kenapa berlari lagi ke tempat ini?” Tanya Alika sembari duduk disampingku, lalu memeluk bahuku erat. Ah, sentuhan sahabat yang sangat hangat.
                “Tadi gerimis, kemudian berubah menjadi hujan. Aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak berlari dan menemui Orion dalam hayalku.” Jawabku tertatih, menahan dingin.
                “Bukankah kamu bilang sudah bisa melupakannya?” Tanya Alika lagi.
                “Tapi bayangnya terus bermain liar di mataku saat gerimis menjadi hujan, karena ini hal yang paling ia suka.” Mataku mulai berair. Alika merasakan aku kembali sakit, lalu mempererat pelukannya.
                “Kamu tidak ingin menemuinya?” Tanya Fatir.
                “Tidak, kalian lihat sendiri kan waktu itu dia telah bahagia bersama seorang gadis yang jauh melebihi aku, gadis itu pasti bisa bahagiakan Orion, tak sepertiku yang hanya buatnya sakit dengan memendam rasa padaku selama bertahun-tahun.”
                Ingatanku kembali lagi pada kejadian 6 bulan lalu, saat aku pertama kali mendengar Orion bersama seorang wanita dan memilih pergi meninggalkanku. Sakit! Itu yang pasti aku rasa. Tapi aku hadapi semua dengan senyum, itu pilihannya dan aku harus menerima kalau Orion sudah tidak tahan bersamaku, karena aku membuatnya terus saja sakit. Aku bahagia karena dia berbahagia dengan seseorang yang bernama Dian. Yang aku tau namanya dari Fatir.
                Hhh…Tuhan, sebenarnya seperti apa rasaku ini? Hanya sekedar sayang seorang sahabat atau lebih? Aku bahagia melihatnya tertawa bersama Dian, tapi tak bisa dipungkiri akupun sakit melihat kebahagiaannya bersama orang lain, bukan bersamaku.
*
                Gerimis berhenti, tapi mendung tetap selimuti sore ini, bersama Alika dan Fatir aku beranjak meninggalkan tempat ini. Sebuah taman kecil yang menjadi kenanganku bersama Orion.
                Depan gerbang rumah perlahan langkahku berhenti. Alika yang merasakan tubuhku mengejang mengikuti arah pandangku dan sedetik kemudian diapun tersentak.
                “Ada apa dia kesini?” Tanyaku entah kepada siapa. Aku tak mampu berkata, langkahku terhenti melihat Dian duduk diteras rumah bersama ibuku. Alika dan Fatir memandangiku, mereka ragu, antara mengajakku menemui Dian dengan hati teriris atau meninggalkan rumah begitu saja.
                “Kita pergi saja, nanti setelah dia pergi baru kita kembali. Sebaiknya sekarang kerumah Alika.” Ajak Fatir yang melihatku sangat rapuh. Tapi terlambat, ibu melihatku datang dan memanggilku.
                “Vega, ayo cepat kesini. Ada temanmu mencari.”
                ‘Tuhan…kenapa dia kemari? Apa hanya ingin menceritakan kebahagiaanya bersama Orion? Dia hanya ingin mengatakan bahwa kini Orion bisa tertawa lepas bersamanya? Ah, tidak! Aku tidak siap mendengarnya, Tuhan!’ jeritku dalam hati.
                “Vega, Alika, Fatir! Apa yang kalian lakukan disitu? Kemarilah.” Ibuku terus saja memanggil. Ibu, tidakkah dia melihat aku yang semakin ‘berantakan’ melihat Dian?!
                “Ve…ayo kesana. Tenangkan dirimu, aku dan Fatir tetap di sampingmu.” Alika memberiku semangat dan tanpa terasa aku mulai merasakan udara untuk bernafas. Dengan mantap, aku langkahkan kaki menuju teras rumah menghampiri Ibu dan Dian.
                “Aduh…kenapa kau basah kuyup seperti itu? Pasti bermain hujan lagi. Kamu seperti anak kecil saja Ve, berlarian di bawah hujan.” Ibu memegang pipiku yang sangat dingin. Sejenak, aku melirik Dian yang memancarkan kesedihan dan seperti mengerti kenapa aku suka bermain dengan hujan.
                “Hai, Di!” aku menyapa Dian tanpa membalas kata-kata ibuku.
                “Hmm, Ha..Hai juga, Ve!” Ya Tuhan! Dian begitu gugup menjawab sapaku.
                “Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju dulu. Biarkan Alika dan Fatir yang menemani Dian di sini, sambil lalu Ibu akan buatkan minuman untuk mereka.” Ucap Ibu, aku hendak menolaknya sebelum sesaat kemudian Dian menyela.
                “Mungkin itu lebih baik, Ve. Supaya kamu tidak sakit, kamu harus keringkan tubuhmu dulu.”  Ucapannya mulai lancar, tapi tak bisa menghilangkan kegugupan yang masih terdengar di telingaku.
                “Baiklah kalau begitu, aku ke dalam dulu membersihkan diri. Permisi.”

Lima belas menit berlalu…
                Setelah yakin penampilanku tidak berantakan lagi, Aku melangkahkan kakiku menuju Alika, Fatir dan Dian diruang depan.
                “Maaf lama…” Kataku pada semua yang ada. “Ada apa kamu ke sini?” tanyaku langsung pada Dian.
                “Ingin mengajakmu menemui Orion.” Jawabnya langsung.
                “Untuk apa?” tanyaku.
                “Aku merasa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi dia tidak berani menemuimu langsung, karena sekarang…”
                “Ve, Sebaiknya kamu ikut saja, nanti kamu akan tahu ada apa.” Fatir memotong perkataan Dian. “Lebih baik dia melihat langsung keadaannya.” Fatir mengalihkan pandangannya pada Dian.
                ‘Ada apa ini?’ aku semakin tidak mengerti, kenapa Fatir mengusulkanku untuk bertemu Orion? Bukankah dia tau aku tidak sanggup bertemu Orion untuk saat ini? Fikirku berkecamuk. Saat ini Alika lebih banyak diam, apa yang sudah dikatakan Dian pada kedua sahabatku ini? Aaargghhh…
                “Ayo Ve…kita harus segera menemui Orion. Sepertinya akan hujan lagi.”
Walaupun dengan seribu tanya, aku langkahkan kaki mengikuti langkah Dian, menuju rumah Orion. Semoga hal buruk tidak terjadi. Doaku dalam hati.
*
                Langkahku mulai tertatih memperhatikan sosok di sana. Seseorang berpakaian putih, dengan lemah duduk pada sebuah kursi roda menatap langit yang mulai gelap, seperti menantikan sesuatu.
                “Siapa dia?” tanyaku takut, walaupun aku tau pasti siapa orang itu.
                “Kau tidak mengenalnya?” Dian balik bertanya. Aku menatap Dian penuh harap, berharap dia tidak mengatakan bahwa seseorang dikursi roda itu adalah Orion. Tapi seolah bisa membaca pikiranku Dian menjawab, “Yah, dia Orion.” Dian menahan air matanya. “Leukimia, pada stadium yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Penyakit itu menggerogotinya sejak 2 tahun terakhir, tapi tidak ada yang tahu.
                “Dia meninggalkanmu bukan karena tidak punya alasan atau karena dia mencintaiku. Dia hanya tidak mau kamu terus menangis menemani dia yang semakin rapuh dan hanya menunggu kematian. Enam bulan lalu, sejak ia tak ada kabar, dia pergi berobat ke luar negeri, tapi nihil. Sedikitpun tak ada hasil.
                “Paling parahnya lagi, dia mulai melupakan orang-orang sekitarnya, termasuk aku, yang sempat dia jadikan perantara untuk meninggalkanmu. Dia tak pernah menganggapku ada, aku hanya sebatas selingan saat dia ingin bermain-main dengan rasa. Dan yang dia ingat hanya kamu.
                “Setiap malam dia selalu memandangi langit, melihat bintang. Berharap sebuah bintang bernama Vega muncul dan menemani waktunya. Kamu tau tidak, kenapa Orion suka bintang? Hhh…itu karena nama kalian adalah nama bintang. Bintang Orion dan bintang Vega.
                “Yang tersisa diingatannya saat ini hanya kamu, Ve. Dokter bilang, semakin hari otaknya akan melemah dan akan melupakan satu persatu orang-orang di sekitarnya. Yang aku tidak habis fikir, kenapa yang tersisa hanya kamu? Kenapa bukan aku yang enam bulan terahir ini terus menemaninya. Lalu perlahan aku mulai sadar, bahwa yang ada dalam fikirnya hanya kamu, yang tersisa dalam ingatannya hanya kenangan bersamamu. Saat itu aku mengalah, aku harus pergi dan mulai mencarimu.
“Temui dia, Ve. Walaupun tak pernah dia katakan, tapi aku tahu dia sangat ingin bersamamu. Berlarian di bawah hujan dan memandangi bintang. Temui dia, Ve.” Cerita panjang Dian berakhir. Dia menangis, dan tidak usah ditanyakan lagi seberapa banyak air mataku tumpah yang seiring dengan isak tangis Dian yang semakin menjadi.
                Perlahan aku langkahkan kaki menuju Orion yang duduk tak berdaya di kursi roda.
                “Ri…” Panggilku ragu. Dia menoleh dan begitu kaget saat melihatku. Sekuat tenaga dia berusaha berdiri tapi kakinya terlalu lemah. Di kejauhan Dian hendak berlari membantu Orion, tapi kemudian ia urungkan.
                “Tidak perlu berdiri,” aku membantu Orion memperbaiki posisi duduknya.
                “Ve….kamu…ka..”
                “Kamu jahat, kenapa aku jadi orang terakhir yang tau hal ini?!” Tanyaku pura-pura marah padanya. “Kamu tau aku tidak akan meninggalkanmu seperti apapun kamu nantinya, aku tidak akan menangis menemanimu melawan sakit, aku tak akan sedih melepasmu pergi jika itu yang telah digariskan oleh Tuhan. Aku…” Tak kuasa, air mataku jatuh lagi.
                “Aku rindu ocehanmu ini. Aku rindu segalanya tentangmu.” Dia tersenyum, tapi kata-katanya semakin buatku meringis sakit. “Maaf, selama ini aku berbohong. Tapi benar, aku tidak ingin buatmu terus saja sedih melihatku dibalut alat-alat medis rumah sakit. Aku ingin bermain hujan bersamamu, ingin melihat bintang bersamamu. Ingin segala hal aku lakukan bersamamu, seperti dulu.” Lanjutnya.
                Perlahan gerimis turun, seolah menjawab keinginan Orion untuk bermain hujan bersamaku. Aku tersenyum padanya dan diapun membalas senyumku.
                “Sepertinya Tuhan akan menjawab rindumu.” Kataku,  lalu mendorong kursi rodanya untuk berlarian menusuri halaman rumah yang mulai basah dan membiarkan dia tertawa di bawah gerimis yang kemudian menjadi hujan.
Dari kejauhan aku melihat Dian menangis sambil tersenyum, lalu mengacungkan kedua jempolnya kearahku dan akupun membalasnya dengan senyuman sambil menahan isak tangisku agar tak terdengar Orion, aku harus kuat berada di sampingnya.
10 menit kemudian aku mengajak Orion kedalam rumah.
“Tapi hujan belum reda Ve, aku ingin terus berlarian di bawahnya.”
“Ri, kamu kan sedang sakit, tidak boleh terlalu lama bermain hujan. Sekarang saatnya kamu ganti baju, makan lalu minum obat. Ok!”
“Baik, bos.” Ujarnya riang, tapi tetap dengan nada lemah.
Aku bawa Orion ke kamarnya, lalu beberapa orang pembantu mulai membersihkan seluruh tubuhnya. Aku, Dian, dan kedua orang tua Orion menunggu di luar. Beberapa saat kemudian, semua telah selesai, makanan juga sudah tersedia di meja samping tempat tidur Orion.
Tak lama, aku menyuapinya dan memberikan obat padanya. Orangtua Orion dan Dian begitu bahagia melihat Orion bersemangat seperti itu, sempat menyesal karena tidak dari dulu mereka memanggil Vega untuk menemani hari-hari Orion.
“Aku lelah, Ve. Biarkan aku tidur, sebentar…saja. Ya?”
“Ya, tidurlah. Aku akan tetap di sini menunggumu hingga terjaga nanti.”
“Terimakasih untuk semuanya, bermain lagi di bawah hujan dan melihatmu tertawa lepas, sakitku tak terasa lagi. Aku sangat bahagia hari ini. Satu permintaan lagi dariku,” katanya memohon.
“Apa?” tanyaku.
“Boleh aku mengenggam tanganmu sebelum aku tertidur?”
“Boleh saja.” Aku tersenyum. Perlahan aku menggenggam tangannya yang semakin kurus dan terasa dingin, Orion pasti kedinginan setelah bermain hujan tadi.
Perlahan dia memejamkan mata, sesaat aku melihatnya tertidur pulas…
Tapi ada yang aneh…
Beberapa menit berlalu
Kemudian genggamannya melemah
Sekujur tubuhnya sedingin es
Tidak! Jeritku dalam hati
“Ri…Orion…” Tertatih ku ucapkan namanya, tapi dia semakin melemah dan tangannya berangsur melepas tanganku. Setelah itu aku menangis, tak tau lagi apa yang terjadi. Yang paling jelas terdengar adalah jeritan Ibu Orion dan Dian yang merasakan  jiwa Orion perlahan menjauhi raganya.
Orion telah pergi.
Dan hujan mengiringi kepergiannya…
SEKIAN
Read More

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena