Sabtu, 30 Juli 2011

Hujan Bersama Kita

Created by Yenny Yenz
Hentak langkah bersama hujan tak hentikanku berlari menuju suatu tempat yang menjadi kenangan kita. Beberapa bulan lalu, sebelum semuanya berubah aku tetap duduk diam bersamamu ditempat itu, tapi kini hanya tersisa kenangan yang tak pernah lenyap dari fikirku. Hujan tak lelah berhenti dan aku pun tak lelah berlari menyusuri jalan setapak ini, aku ingin melihatmu bersama pelangi seperti waktu itu. Walaupun aku tahu, itu hanyalah mimpi dan khayalanku, karena saat ini kau telah pergi. Entah kemana…
Langkahku terhenti, aku duduk dibawah sebuah pohon rindang dengan sisa gerimis, dengan tubuh yang basah kuyup dan hanya bertemankan bayangmu.
Sangat jelas ingatanku tentangmu, tentang kita yang tak pernah lelah melihat bintang ketika malam, juga tentang kita yang bersama bermain dibawah gerimis. ah! Ingatan itu sangat pekat hingga sakit ulu hatiku mengingatnya.
                “Ve, seandainya kamu bisa minta pada Tuhan, apa yang paling kamu inginkan saat ini?” Tanya Orion dengan mata nanar, baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
                “Aku ingin persahabatan kita selamanya tak ‘kan dipisahkan jarak dan waktu.” Jawabku sungguh-sungguh.
                “Seandainya persahabatan ini nantinya akan berakhir, bagaimana?” Tanyanya mengagetkanku. Aku menatapnya lekat, lalu sedetik kemudian matanya sayu, seolah menahan  tangis.
                “Ri, ada apa???” tanyaku kembali tanpa membalas pertanyaan yang dia lontarkan padaku.
                “Maaf, jika saatnya nanti aku harus pergi. Aku berharap kamu bisa bahagia.”
                “Kamu mau kemana? Berani tinggalin aku sendiri?” aku tak paham maksudnya.
                “Ve, aku sayang kamu. Dan kamu tau pasti seperti apa perasaan ini, tidak hanya sebatas sayang seorang sahabat saja, dan…”
                “Cukup, Ri!” aku memutus kata-katanya. “Kamu juga tau pasti kan kalau aku lebih bahagia kita sebagai sahabat, sahabatku segalanya untukku. Aku tidak ingin kita pacaran, putus, lalu tak ada kabar. Aku nggak mau kehilangan kamu, aku nggak mau kebersamaan ini pergi.” Lanjutku, berharap dia mau mengerti.
                “Tak lama lagi semuanya akan pergi, perasaanku berkata seperti itu.” Ujarnya lirih.
Sesaat kemudian aku berdiri. Aku tetap tidak paham maksudnya, tapi aku menarik kesimpulan dia ingin menjauh. Aku menahan keras air mataku agar tidak mengalir, aku harus kuat. Tak boleh menangis.
                “Ve, kamu lebih suka mana gerimis atau hujan?” diapun ikut berdiri tepat disampingku, sama-sama melihat bintang. Dan mengalihkan topik pembicaraan. Dan bodohnya, aku ikut saja pembicaraan berikutnya tanpa ada hal yang jelas pada percakapan sebelumnya.
                “Aku suka hujan. Kamu?” aku balik bertanya.
                “Gerimis.” jawab Orion singkat.
                “Tapi gerimis itu nanar dan tidak pasti.”
                “Aku suka gerimis, yang kemudian berubah menjadi hujan.”
Aku takjub dengan jawabnya, dia memang selalu penuh kejutan dengan bahasanya, ku berikan seulas senyum untuk sahabatku ini, lalu aku berkata dalam hati, “Semoga kau terus bahagia melihat hujan…dan maaf, rasa itu tidak bisa aku balas.”
                “Hei….kenapa melamun?!” seseorang mengagetkanku dan mengembalikan kesadaranku lagi. Membuatku kembali pada duniaku, meninggalkan hayalanku tentang Orion, sahabat kecilku yang kini telah pergi.
                “Kenapa kaget? Orion lagi yang kamu pikirkan?” tebak Alika, gadis manis yang berdiri disamping seseorang yang mengagetkanku barusan. Mereka adalah Alika dan Fatir, sahabatku sejak SMA, sahabat yang menggantikan posisi Orion dihatiku, tapi tak mampu hilangkan setiap kenangan bersama Orion yang masih sangat jelas terekam dalam otakku.
                “Coba lihat, kamu sungguh berantakan. Tubuhmu basah kuyup dan menggigil.” Dengan tulus Fatir memakaikan jaketnya padaku. Aku tersenyum ikhlas padanya, lalu berucap terimakasih perlahan.
                “Kenapa berlari lagi ke tempat ini?” Tanya Alika sembari duduk disampingku, lalu memeluk bahuku erat. Ah, sentuhan sahabat yang sangat hangat.
                “Tadi gerimis, kemudian berubah menjadi hujan. Aku tak bisa menahan langkahku untuk tidak berlari dan menemui Orion dalam hayalku.” Jawabku tertatih, menahan dingin.
                “Bukankah kamu bilang sudah bisa melupakannya?” Tanya Alika lagi.
                “Tapi bayangnya terus bermain liar di mataku saat gerimis menjadi hujan, karena ini hal yang paling ia suka.” Mataku mulai berair. Alika merasakan aku kembali sakit, lalu mempererat pelukannya.
                “Kamu tidak ingin menemuinya?” Tanya Fatir.
                “Tidak, kalian lihat sendiri kan waktu itu dia telah bahagia bersama seorang gadis yang jauh melebihi aku, gadis itu pasti bisa bahagiakan Orion, tak sepertiku yang hanya buatnya sakit dengan memendam rasa padaku selama bertahun-tahun.”
                Ingatanku kembali lagi pada kejadian 6 bulan lalu, saat aku pertama kali mendengar Orion bersama seorang wanita dan memilih pergi meninggalkanku. Sakit! Itu yang pasti aku rasa. Tapi aku hadapi semua dengan senyum, itu pilihannya dan aku harus menerima kalau Orion sudah tidak tahan bersamaku, karena aku membuatnya terus saja sakit. Aku bahagia karena dia berbahagia dengan seseorang yang bernama Dian. Yang aku tau namanya dari Fatir.
                Hhh…Tuhan, sebenarnya seperti apa rasaku ini? Hanya sekedar sayang seorang sahabat atau lebih? Aku bahagia melihatnya tertawa bersama Dian, tapi tak bisa dipungkiri akupun sakit melihat kebahagiaannya bersama orang lain, bukan bersamaku.
*
                Gerimis berhenti, tapi mendung tetap selimuti sore ini, bersama Alika dan Fatir aku beranjak meninggalkan tempat ini. Sebuah taman kecil yang menjadi kenanganku bersama Orion.
                Depan gerbang rumah perlahan langkahku berhenti. Alika yang merasakan tubuhku mengejang mengikuti arah pandangku dan sedetik kemudian diapun tersentak.
                “Ada apa dia kesini?” Tanyaku entah kepada siapa. Aku tak mampu berkata, langkahku terhenti melihat Dian duduk diteras rumah bersama ibuku. Alika dan Fatir memandangiku, mereka ragu, antara mengajakku menemui Dian dengan hati teriris atau meninggalkan rumah begitu saja.
                “Kita pergi saja, nanti setelah dia pergi baru kita kembali. Sebaiknya sekarang kerumah Alika.” Ajak Fatir yang melihatku sangat rapuh. Tapi terlambat, ibu melihatku datang dan memanggilku.
                “Vega, ayo cepat kesini. Ada temanmu mencari.”
                ‘Tuhan…kenapa dia kemari? Apa hanya ingin menceritakan kebahagiaanya bersama Orion? Dia hanya ingin mengatakan bahwa kini Orion bisa tertawa lepas bersamanya? Ah, tidak! Aku tidak siap mendengarnya, Tuhan!’ jeritku dalam hati.
                “Vega, Alika, Fatir! Apa yang kalian lakukan disitu? Kemarilah.” Ibuku terus saja memanggil. Ibu, tidakkah dia melihat aku yang semakin ‘berantakan’ melihat Dian?!
                “Ve…ayo kesana. Tenangkan dirimu, aku dan Fatir tetap di sampingmu.” Alika memberiku semangat dan tanpa terasa aku mulai merasakan udara untuk bernafas. Dengan mantap, aku langkahkan kaki menuju teras rumah menghampiri Ibu dan Dian.
                “Aduh…kenapa kau basah kuyup seperti itu? Pasti bermain hujan lagi. Kamu seperti anak kecil saja Ve, berlarian di bawah hujan.” Ibu memegang pipiku yang sangat dingin. Sejenak, aku melirik Dian yang memancarkan kesedihan dan seperti mengerti kenapa aku suka bermain dengan hujan.
                “Hai, Di!” aku menyapa Dian tanpa membalas kata-kata ibuku.
                “Hmm, Ha..Hai juga, Ve!” Ya Tuhan! Dian begitu gugup menjawab sapaku.
                “Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju dulu. Biarkan Alika dan Fatir yang menemani Dian di sini, sambil lalu Ibu akan buatkan minuman untuk mereka.” Ucap Ibu, aku hendak menolaknya sebelum sesaat kemudian Dian menyela.
                “Mungkin itu lebih baik, Ve. Supaya kamu tidak sakit, kamu harus keringkan tubuhmu dulu.”  Ucapannya mulai lancar, tapi tak bisa menghilangkan kegugupan yang masih terdengar di telingaku.
                “Baiklah kalau begitu, aku ke dalam dulu membersihkan diri. Permisi.”

Lima belas menit berlalu…
                Setelah yakin penampilanku tidak berantakan lagi, Aku melangkahkan kakiku menuju Alika, Fatir dan Dian diruang depan.
                “Maaf lama…” Kataku pada semua yang ada. “Ada apa kamu ke sini?” tanyaku langsung pada Dian.
                “Ingin mengajakmu menemui Orion.” Jawabnya langsung.
                “Untuk apa?” tanyaku.
                “Aku merasa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi dia tidak berani menemuimu langsung, karena sekarang…”
                “Ve, Sebaiknya kamu ikut saja, nanti kamu akan tahu ada apa.” Fatir memotong perkataan Dian. “Lebih baik dia melihat langsung keadaannya.” Fatir mengalihkan pandangannya pada Dian.
                ‘Ada apa ini?’ aku semakin tidak mengerti, kenapa Fatir mengusulkanku untuk bertemu Orion? Bukankah dia tau aku tidak sanggup bertemu Orion untuk saat ini? Fikirku berkecamuk. Saat ini Alika lebih banyak diam, apa yang sudah dikatakan Dian pada kedua sahabatku ini? Aaargghhh…
                “Ayo Ve…kita harus segera menemui Orion. Sepertinya akan hujan lagi.”
Walaupun dengan seribu tanya, aku langkahkan kaki mengikuti langkah Dian, menuju rumah Orion. Semoga hal buruk tidak terjadi. Doaku dalam hati.
*
                Langkahku mulai tertatih memperhatikan sosok di sana. Seseorang berpakaian putih, dengan lemah duduk pada sebuah kursi roda menatap langit yang mulai gelap, seperti menantikan sesuatu.
                “Siapa dia?” tanyaku takut, walaupun aku tau pasti siapa orang itu.
                “Kau tidak mengenalnya?” Dian balik bertanya. Aku menatap Dian penuh harap, berharap dia tidak mengatakan bahwa seseorang dikursi roda itu adalah Orion. Tapi seolah bisa membaca pikiranku Dian menjawab, “Yah, dia Orion.” Dian menahan air matanya. “Leukimia, pada stadium yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Penyakit itu menggerogotinya sejak 2 tahun terakhir, tapi tidak ada yang tahu.
                “Dia meninggalkanmu bukan karena tidak punya alasan atau karena dia mencintaiku. Dia hanya tidak mau kamu terus menangis menemani dia yang semakin rapuh dan hanya menunggu kematian. Enam bulan lalu, sejak ia tak ada kabar, dia pergi berobat ke luar negeri, tapi nihil. Sedikitpun tak ada hasil.
                “Paling parahnya lagi, dia mulai melupakan orang-orang sekitarnya, termasuk aku, yang sempat dia jadikan perantara untuk meninggalkanmu. Dia tak pernah menganggapku ada, aku hanya sebatas selingan saat dia ingin bermain-main dengan rasa. Dan yang dia ingat hanya kamu.
                “Setiap malam dia selalu memandangi langit, melihat bintang. Berharap sebuah bintang bernama Vega muncul dan menemani waktunya. Kamu tau tidak, kenapa Orion suka bintang? Hhh…itu karena nama kalian adalah nama bintang. Bintang Orion dan bintang Vega.
                “Yang tersisa diingatannya saat ini hanya kamu, Ve. Dokter bilang, semakin hari otaknya akan melemah dan akan melupakan satu persatu orang-orang di sekitarnya. Yang aku tidak habis fikir, kenapa yang tersisa hanya kamu? Kenapa bukan aku yang enam bulan terahir ini terus menemaninya. Lalu perlahan aku mulai sadar, bahwa yang ada dalam fikirnya hanya kamu, yang tersisa dalam ingatannya hanya kenangan bersamamu. Saat itu aku mengalah, aku harus pergi dan mulai mencarimu.
“Temui dia, Ve. Walaupun tak pernah dia katakan, tapi aku tahu dia sangat ingin bersamamu. Berlarian di bawah hujan dan memandangi bintang. Temui dia, Ve.” Cerita panjang Dian berakhir. Dia menangis, dan tidak usah ditanyakan lagi seberapa banyak air mataku tumpah yang seiring dengan isak tangis Dian yang semakin menjadi.
                Perlahan aku langkahkan kaki menuju Orion yang duduk tak berdaya di kursi roda.
                “Ri…” Panggilku ragu. Dia menoleh dan begitu kaget saat melihatku. Sekuat tenaga dia berusaha berdiri tapi kakinya terlalu lemah. Di kejauhan Dian hendak berlari membantu Orion, tapi kemudian ia urungkan.
                “Tidak perlu berdiri,” aku membantu Orion memperbaiki posisi duduknya.
                “Ve….kamu…ka..”
                “Kamu jahat, kenapa aku jadi orang terakhir yang tau hal ini?!” Tanyaku pura-pura marah padanya. “Kamu tau aku tidak akan meninggalkanmu seperti apapun kamu nantinya, aku tidak akan menangis menemanimu melawan sakit, aku tak akan sedih melepasmu pergi jika itu yang telah digariskan oleh Tuhan. Aku…” Tak kuasa, air mataku jatuh lagi.
                “Aku rindu ocehanmu ini. Aku rindu segalanya tentangmu.” Dia tersenyum, tapi kata-katanya semakin buatku meringis sakit. “Maaf, selama ini aku berbohong. Tapi benar, aku tidak ingin buatmu terus saja sedih melihatku dibalut alat-alat medis rumah sakit. Aku ingin bermain hujan bersamamu, ingin melihat bintang bersamamu. Ingin segala hal aku lakukan bersamamu, seperti dulu.” Lanjutnya.
                Perlahan gerimis turun, seolah menjawab keinginan Orion untuk bermain hujan bersamaku. Aku tersenyum padanya dan diapun membalas senyumku.
                “Sepertinya Tuhan akan menjawab rindumu.” Kataku,  lalu mendorong kursi rodanya untuk berlarian menusuri halaman rumah yang mulai basah dan membiarkan dia tertawa di bawah gerimis yang kemudian menjadi hujan.
Dari kejauhan aku melihat Dian menangis sambil tersenyum, lalu mengacungkan kedua jempolnya kearahku dan akupun membalasnya dengan senyuman sambil menahan isak tangisku agar tak terdengar Orion, aku harus kuat berada di sampingnya.
10 menit kemudian aku mengajak Orion kedalam rumah.
“Tapi hujan belum reda Ve, aku ingin terus berlarian di bawahnya.”
“Ri, kamu kan sedang sakit, tidak boleh terlalu lama bermain hujan. Sekarang saatnya kamu ganti baju, makan lalu minum obat. Ok!”
“Baik, bos.” Ujarnya riang, tapi tetap dengan nada lemah.
Aku bawa Orion ke kamarnya, lalu beberapa orang pembantu mulai membersihkan seluruh tubuhnya. Aku, Dian, dan kedua orang tua Orion menunggu di luar. Beberapa saat kemudian, semua telah selesai, makanan juga sudah tersedia di meja samping tempat tidur Orion.
Tak lama, aku menyuapinya dan memberikan obat padanya. Orangtua Orion dan Dian begitu bahagia melihat Orion bersemangat seperti itu, sempat menyesal karena tidak dari dulu mereka memanggil Vega untuk menemani hari-hari Orion.
“Aku lelah, Ve. Biarkan aku tidur, sebentar…saja. Ya?”
“Ya, tidurlah. Aku akan tetap di sini menunggumu hingga terjaga nanti.”
“Terimakasih untuk semuanya, bermain lagi di bawah hujan dan melihatmu tertawa lepas, sakitku tak terasa lagi. Aku sangat bahagia hari ini. Satu permintaan lagi dariku,” katanya memohon.
“Apa?” tanyaku.
“Boleh aku mengenggam tanganmu sebelum aku tertidur?”
“Boleh saja.” Aku tersenyum. Perlahan aku menggenggam tangannya yang semakin kurus dan terasa dingin, Orion pasti kedinginan setelah bermain hujan tadi.
Perlahan dia memejamkan mata, sesaat aku melihatnya tertidur pulas…
Tapi ada yang aneh…
Beberapa menit berlalu
Kemudian genggamannya melemah
Sekujur tubuhnya sedingin es
Tidak! Jeritku dalam hati
“Ri…Orion…” Tertatih ku ucapkan namanya, tapi dia semakin melemah dan tangannya berangsur melepas tanganku. Setelah itu aku menangis, tak tau lagi apa yang terjadi. Yang paling jelas terdengar adalah jeritan Ibu Orion dan Dian yang merasakan  jiwa Orion perlahan menjauhi raganya.
Orion telah pergi.
Dan hujan mengiringi kepergiannya…
SEKIAN

1 komentar:

© Yenny Yenz, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena